Total Tayangan Halaman

Kamis, 25 Juli 2013

Wahsyi bin Harb, Ingin Taubat Sebenar-benar Taubat


Wahsyi bin Harb, Ingin Taubat Sebenar-benar Taubat

tombakAdakah sampai kepadamu penggalan hikayat Wahsyi bin Harb? Seorang budak yang dimiliki oleh pembesar Quraisy Jubair bin Muth’im. Oleh tuannya dan Hindun bin Utbah, ia dijanjikan kemerdekaan apabila berhasil membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib.
“Telah kutebus kemerdekaanku dengan membunuh paman Muhammad namun mengapa aku masih merasa sebagai seorang budak? Dimanakah kemerdekaan hakiki itu?” Itulah tanya Wahsyi pada dirinya. Resah. Sempat ia menangis tetapi dia sendiri bingung tangis itu untuk apa. Serasa ada sebuah bongkahan batu besar yang mengganjal hatinya. Wahsyi menyadari dirinya tidak bahagia seperti yang diinginkannya walau ia telah merdeka.
Satu per satu sahabatnya ditemukan telah memeluk agama Muhammad. Ablah, sahabatnya yang juga budak Jubair bin Muth’im, membuatnya tak habis pikir bahwa Ablah bisa seteguh itu melewati masa-masa penyiksaan oleh tuannya. Di kemudian hari didapati pula Suhail, sahabatnya telah mengimani agama Muhammad dan hijrah ke Tsaqif. Pun ada rasa cemburu ketika Rasulullah memuliakan Bilal dan berita mengejutkan lainnya seperti Khalid bin Walid serta Wishal seorang pelacur yang telah lebih dulu mengumumkan keislamannya.
Kecamuk dalam hatinya kian hebat. Pergolakan batin setelah perang Uhud itu justru melanda jiwa dan pikirannya. Kemerdekaan telah didapatkannya, namun ketenangan jiwa masih jauh dari dirinya. Akankah ia mengikuti agama tauhid ini? Dorongan hatinya mengatakan demikian. Perlahan ia menyadari, inilah pintu kebebasan sesungguhnya yang ia cari-cari. Kebenaran yang tak sanggup diingkarinya
Akhirnya Wahsyi melangkah menghadap Rasulullah dengan iman di dadanya. Seberkas cahaya Allah yang telah merasuk ke hati membuatnya yakin melawan segala ketakutan atas bayang-bayang masa lalu. Wahsyi telah berada dalam naungan Islam yang agung. Dia memilih agama tauhid ini mengikuti sisi hatinya yang fitrah. Dalam perang-perang melawan para pembangkang Islam, dia senantiasa turut serta dalam pasukan. Ya, menjadi mujahid adalah jalan hidupnya.
Namun keislamannya harus dibayar dengan suatu kerinduan yang sangat dalam kepada Rasulullah. Suatu ketika Rasulullah memanggil memintanya menceritakan bagaimana ia membunuh orang terkasihnya, Hamzah bin Abdul Muthalib.
“Celakalah engkau, hai Wahsyi! Kumohon, palingkan wajahmu dariku!” Itulah pinta Rasul kepada Wahsyi. Rasul sadar dirinya tak pernah sanggup melihat wajah Wahsyi. Hatinya perih teringat sang paman. Rasul khawatir hal ini membuatnya membenci Wahsyi sebagai saudara yang seharusnya dapat diperlakukan seperti sahabat lainnya.
Inilah dakwah Rasulullah, beliau berdakwah bahkan kepada orang yang nyaris tak sanggup beliau maafkan kesalahannya. Sementara Wahsyi sebagai jundi yang taat menyadari posisinya. Tanpa banyak tanya, dia mematuhi perintah Rasullullah. Dengan kebeningan hati, ia sanggup menuruti perintah itu walaupun getir dan pahit. Terbayang betapa remuk hatinya. Rasul enggan menatapnyaa. Wahsyi memilih duduk disudut mesjid agar Rasulullah tidak melihatnya ketika berkhutbah. Hatinya menangis, merindukan Rasulullah. Entah berapa lama Wahsyi menunggu panggilan kedua dari Rasul. Yang bisa ia lakukan hanya mencuri-curi pandang ke arah Rasulullah sambil berharap Rasul memanggilnya dan bersitatap dengannya. Namun harapan itu tak kunjung terwujud sampai akhirnya ia mendengar berita wafatnya Rasulullah. Hatinya semakin remuk mengetahui kenyataan bahwa panggilan yang ditunggu sekian lama itupun akhirnya sungguh lenyap ditelan waktu.
Selepas wafatnya Rasul, Wahsyi terus berjuang bersama para sahabat melawan musuh-musuh Islam. Ia terus beramal dan suatu ketika pada perang Yamamah, Wahsyi berharap dapat nenebus kesalahannya dengan membunuh Musailamah si nabi palsu dengan tombak yang sama ia gunakan ketika menusuk Hamzah. Saat tombaknya menusuk dada Musailamah hingga tersungkur roboh, ia langsung sujud syukur dengan mata mendanau. “Wahai Rasulullah, apakah sekarang aku sudah boleh menatapmu memelukmu?” Ya, kiranya lirih itu yang mengalir bersama air matanya.
Sungguh, mengingat kembali kisah Wahsyi ini pun membuat kita resah. Kisah taubat sebenar-benar taubat. Siapakah yang mampu menjamin taubat kita lebih baik darinya? Aah Rasulullah ijinkan kami menatapmu lamat-lamat disurga kelak..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar