Total Tayangan Halaman

Sabtu, 13 Juli 2013

''NGAJI YUK...???'''''

  •  RENUNGKANLAH...'''

    “Tidaklah hati seseorang dimasuki unsur sifat sombong, kecuali akalnya akan berkurang sebanyak
    unsur kesombongan yang masuk atau bahkan lebih.”
    “Sesungguhnya petir dapat menyambar seorang mukmin atau bukan, tetapi tak akan menyambar orang yang berzikir.”
    “Tak ada ibadah yang lebih utama daripada menjaga perut dan kemaluan.”
    “Seburuk-buruknya seorang teman ialah yang hanya menemanimu ketika kamu kaya dan meninggalkanmu ketika kamu miskin.”
    “Kenalkanlah rasa kasih sayang dalam hati saudaramu dengan cara memperkenalkannya terlebih dahulu didalam hatimu.”
    “Wahai putraku, hindarilah sifat malas dan bosan, karena keduanya kunci keburukan. Sesungguhnya jika engkau malas, tidak akan banyak melaksanakan kewajiban. Jika engkau bosan, tak akan tahan dalam menunaikan kewjiban.”
    “Jika engkau menginginkan suatu kenikmatan dapat terus engkau nikmati, perbanyaklah mensyukurinya. Jika engkau merasa rezeki lambat datang, perbanyaklah Istighfar. Jika engkau ditimpa kesedihan, perbanyaklah membaca LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAH. Jika engkau takut, ucapkanlah HASBUNALLAH WA NI’MAL WAKIIL. Jika engkau kagum terhadap sesuatu, ucapkanlah MASYA ALLAH, LA QUWWATA ILLA BILLAH. Jika engkau dikhianati, bacalah WA UFAWWIDU AMRII ILALLAH, INNALLAHA BASHIRUN BIL ‘IBAAD. Jika engkau ditimpa kesumpekan, ucapkanlah LA ILAAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNII KUNTU MINADZ DZAALIMIIN.”
  • 15 Juni
  • Ikhya Ulummuddien

    Dari Anas رضي الله عنه yang berkata:
    إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِي أَدَقُّ في أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِي – صلى الله عليه وسلم – الْمُوبِقَاتِ.
    “Sesungguhnya kalian benar-benar melakukan amalan-amalan yang dia itu lebih kecil dalam pandangan mata kalian daripada rambut, padahal sungguh kami pada zaman Rosululloh صلى الله عليه وسلم menilainya termasuk dari penghancur.”
    (HR. Al Bukhoriy (6492)/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).
    Ibnu Hajar رحمه الله berkata
    : “Yaitu: kalian melakukan amalan-amalan yang kalian kira dia itu remeh, padahal dia itu besar atau berakhir pada perkara yang besar.”
    (“Fathul Bari”/11/hal. 371/Maktabatush Shofa).
    Ibnu Baththol رحمه الله berkata:
    “Dosa-dosa yang diremehkan jika banyak akan menjadi besar jika terus-menerus dilakukan.”
    (“Fathul Bari”/11/hal. 371/Maktabatush Shofa).
    Al Imam Al Barbahariy رحمه الله berkata:
    “Dan hindarilah perkara baru yang kecil-kecil karena sesungguhnya bid’ah yang kecil-kecil itu akan menjadi besar. Dan seperti itulah setiap bid’ah yang dibikin di umat ini, dulu awalnya adalah kecil menyerupai kebenaran, sehingga tertipulah dengan itu orang yang masuk ke dalamnya, lalu dia tak sanggup keluar darinya, lalu menjadi besar dan menjadi agama yang dipeluk, lalu menyelisihi shirothol mustaqim, lalu dia keluar dari Islam.”
    (“Syarhus Sunnah”/Al Barbahariy/hal. 18/Darul Atsar).
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata:
    “Dan jika orang itu bersikeras untuk meninggalkan sunnah yang diperintahkan dan mengerjakan apa yang dilarang, maka terkadang dia akan dihukum dengan dicabutnya darinya ibadah wajib, sampai dia menjadi orang fasiq atau penyeru kepada bid’ah. Dan jika dia bersikeras di atas dosa-dosa besar, dikhawatirkan akan dicabutnya keimanan dari dirinya, karena sesungguhnya bid’ah it uterus-menerus mengeluarkan manusia dari yang kecil kepada yang besar sampai-sampai mengeluarkannya kepada ilhad (penyelwengan dari Islam) dan zandaqoh (nifaq aqidah)…”
    (“Majmu’ul Fatawa”/22/hal. 305-306/ihalah/Darul Wafa).

    ''ADAB-ADAB AHLUL SUNNAH''

    Al Imam Abu Utsman Ash Shobuni رحمه الله berkata:
    “Kumpulan adab-adab ahlul hadits adalah: … dan mereka saling cinta karena agama ini, saling benci juga karena agama ini, menghindari perdebatan dan pertengkaran tentang Alloh, saling menjauh dengan ahli bid’ah dan pelaku kesesatan, memusuhi pengekor hawa nafsu dan kebodohan, …-sampai pada ucapan beliau- dan membenci ahlul bid’ah yang membikin dalam agama perkara yang tidak masuk di dalamnya, tidak mencintai mereka, tidak bersahabat dengan mereka, tidak mendengarkan ucapan mereka, tidak duduk-duduk dengan mereka, tidak mau berdebat mereka tentang agama, tidak berdiskusi dengan mereka. dan berpandangan untuk menjaga telinga-telinga mereka dari mendengarkan kebatilan ahli bid’ah tadi,… dst.”
    (“Aqidatis Salaf Ashabil Hadits”/ hal. 107-108/cet. Darul Minhaj).
    Al Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy رحمه الله berkata:
    “Termasuk dari sunnah adalah meninggalkan ahli bid’ah, memisahkan diri dari mereka, tidak mau berdebat dan bertengkar dengan mereka tentang agama, tidak membaca-baca kitab-kitab mubtadi’ah, tidak mau mencurahkan pendengaran pada ucapan mereka. dan setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah.”
    (“Lum’atul I’tiqod”/karya Ibnu Qudamah/syarh Ibnu Utsaimin/hal. 97/cet. Darul Atsar).
    Abul Hasan Al Asy’ariy رحمه الله berkata:
    “Dan kami berpendapat untuk memisahkan diri dari setiap penyeru kepada kebid’ahan, dan menjauhi pengekor hawa nafsu.”
    (“Al Ibanah”/hal. 53/cet. Maktabah Shon’a).
    Al ‘Allamah Abuth Thoyyib Shiddiq bin Hasan Khon At Tanukhiy رحمه الله berkata:
    “Termasuk dari sunnah adalah meninggalkan ahli bid’ah, menjauhkan diri dari mereka, tidak mau berdebat dan bertengkar dengan mereka tentang agama dan sunnah. Dan setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah. Tidak membaca-baca kitab-kitab mubtadi’ah, tidak mau mencurahkan pendengaran pada ucapan mereka dalam masalah inti agama ataupun cabangnya, …dst.”
    (“Qothfuts Tsimar”/karya Shiddiq Hasan Khon/hal. 178/dengan tahqiq Syaikhuna Abu Amr Al Hajuriy حفظه الله /cet. Maktabah Shon’a Al Atsariyyah).

    ''BENCI KARENA ALLAH''

    Al Imam Sufyan Ats Tsauriy رحمه الله berkata:
    “Jika seseorang cinta pada saudaranya kerena Alloh عز وجل kemudian orang yang dicintainya itu membuat perkara baru dalam Islam lalu dia tidak membencinya Karena perbuatan tadi maka berarti dia tidak mencintainya Karena Alloh عز وجل.
    ” (riwayat Ibnu Abi Hatim dalam “Al Jarh Wat Ta’dil”/1/hal. 52/sanadnya shohih).

    ''MENAMBAH ‘ILMU''
    Berkata seorang penyair:
    إذا لم يذاكر ذو العلوم بعلمه ولم يستزد علما نسي ما تعلما
    “Apabila seorang yang berilmu tidakmemuroja’ahi ilmunya dan tidak pula menambah ilmu dia akan lupa apa yang telah dia pelajari.”[Jami' Bayan Al-'ilm wa Fadhlih 1/206]

    ''CUKUP !!! DENGAN SUNNAH''

    Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Barangsiapa tidak merasa cukup bagi dirinya dengan sunnah sehingga melampaui sampai kepada bid’ah, dia akan keluar dari agama ini. Dan barangsiapa melontarkan kepada manusia sesuatu yang tidak dilontarkan oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersamaan dengan adanya perkara-perkara yang dituntut untuk dilontarkannya sesuatu tadi (pada zaman itu), maka sungguh orang tadi telah mendatangkan syariat kedua dan dia itu bukan pengikut Rosul. Maka hendaknya dia memperhatikan urusannya, ke manakah dia meletakkan kakinya.” (“Al Fatawal Kubro”/3/hal. 167).

    ''AKHIR HIDUP YANG JELEK''

    Al Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy رحمه الله berkata: “Dan penghabisan yang buruk itu punya sebab-sebab sebelum datangnya kematian, seperti bid’ah, kemunafiqan, kesombongan dan sifat-sifat tercela yang lain. Oleh karena itulah ketakutan Salaf terhadap kemunafiqan itu sangat keras. (“Mukhtashor Minhajil Qoshidin”/karya Al Maqdasiy/4/hal. 69).

    ''MENJAGA AGAMA''

    Al Hasan Al Bashri -rahimahulloh- berkata: ”Wahai anak Adam, jaga agamamu, jaga agamamu, karena hanya agama itulah daging dan darahmu. Kalau engkau selamat, maka alangkah tentramnya dan alangkah nikmatnya. Tapi jika yang terjadi adalah selain itu, maka -kita berlindung kepada Alloh- dia itu hanyalah api yang tidak padam, batu yang tidak dingin dan jiwa yang tidak mati” (riwayat Al Firyabi -rahimahulloh- di “Shifatun Nifaq”/no. 49/dishahihkan Syaikh Abdurraqib Al Ibbi -hafidhahulloh-)

    ''MANUSIA YANG PALING BERBAHAGIA''

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahullohu- berkata:
    فأسعد الخلق وأعظمهم نعيما وأعلاهم درجة أعظمهم اتباعا وموافقة له علما وعملا اهـ.
    “Maka makhluq yang paling beruntung, paling agung kenikmatannya dan paling tinggi derajatnya adalah makhluq yang paling besar mutaba’ahnya (sikap ikutnya) dan kesesuaiannya dengan beliau (Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-) baik secara ilmu maupun amalan.” (“Majmu’ul Fatawa”/4/hal. 26).
    TIGA PERKARA
    Abu Darda’ Rodhiyallohu ‘Anhu mengatakan: “Tiga perkara yang aku cintai sementara manusia membencinya; kemiskinan, sakit dan kematian. Aku mencintai kemiskinan karena (menimbulkan) rasatawadhu’ kepada Robb-ku, aku mencintai kematian karenan kerinduan kepada Robb-ku, aku mencintai sakit karena (merupakan) penghapus kesalahan-kesalahanku”. [Siyar A’lamin Nubala’ biographi Abu Darda’]

    ''HATI HATI TERHADAP AHLUL BID’AH''


    Ucapan Al Imam Ibnu Baththoh -rohimahullohu-
    Setelah menyebutkan hadits syubuhat Dajjal, berkatalah Al Imam Ibnu Baththoh -rohimahullohu-:

    هذا قول الرسول صلى الله عليه وسلم، وهو الصادق المصدوق، فالله الله معشر المسلمين، لا يحملن أحدا منكم حسن ظنه بنفسه، وما عهده من معرفته بصحة مذهبه على المخاطرة بدينه في مجالسة بعض أهل هذه الأهواء، فيقول: (أداخله لأناظره، أو لأستخرج منه مذهبه)، فإنهم أشد فتنة من الدجال، وكلامهم ألصق من الجرب، وأحرق للقلوب من اللهب، ولقد رأيت جماعة من الناس كانوا يلعنونهم، ويسبونهم، فجالسوهم على سبيل الإنكار، والردّ عليهم ، فما زالت بهم المباسطة وخفي المكر، ودقيق الكفر حتى صبوا إليهم اهـ.

    “Ini adalah ucapan Rosul -shollallohu ‘alaihi wasallam-, dan beliau itu orang yang jujur dan dibenarkan. Maka bertaqwalah pada Alloh wahai Muslimun, jangan sampai rasa baik sangka pada diri sendiri dan juga ilmu yang dimiliki tentang bagusnya madzhab dirinya membawa salah seorang dari kalian untuk melangsungkan perdebatan dengan agamanya di dalam acara duduk-duduk dengan ahlul ahwa, seraya berkata: “Aku akan masuk ke tempatnya dan kuajak dia berdebat, atau kukeluarkan dirinya dari madzhabnya.” Mereka itu sungguh lebih dahsyat fitnahnya daripada Dajjal, ucapan mereka lebih lengket daripada kurap, dan lebih membakar daripada gejolak api. Sungguh aku telah melihat sekelompok orang yang dulunya mereka itu melaknati ahlul ahwa dan mencaci mereka. Lalu mereka duduk-duduk dengan mereka tadi dalam rangka mengingkari dan membantah mereka. Tapi mereka terus-terusan di dalam obrolan, dan makar musuh tersamarkan dari mereka, dan kekufuran yang lembut tersembunyi dari mereka, hingga akhirnya mereka pindah ke madzhab ahlul ahwa tadi.” (“Al Ibanatul Kubro”/dibawah no. (480)).
    BERSEGERA RUJUK KALAU DIINGATKAN KEPADA AL- HAQ
    Umar bin Khaththab Radhiallaahu’anhu berkata dalam suratnya yang terkenal
    ومراجعة الحق خير من التمادى فى الباطل
    “Dan rujuk kepada kebenaran itu lebih baik daripada berlama lama di dalam kebathilan.” (HR.Al Baihaqy (20324), Ibnu Asakir 32/hal.70 dan yang lainnya.
    Al Imam Ibnu Qoyyim rohimahullah berkata: “Ini adalah kitab (surat) yang agung yang telah di terima oleh Ummat.” (“I’lamul Muwaqqi’in” (1/hal. 110)
    Syaikhuna Yahya -Hafidhahullah- berkata : “Para ulama bersepakat untuk menerima surat “umar ini”
    AKHERAT AKHIRNYA DIJUAL
    Nasihat Al Imam Ibnul Mubarok rohimahulloh kepada Ibnu Ulayyah rohimahulloh:

    يا جاعل العلم له بازيا *
    يصطاد أموال المساكين احتلت للدنيا ولذاتها *
    بحيلة تذهب بالدين فصرت مجنونا بها بعدما *
    كنت دواء للمجانين أين رواياتك فيما مضى *
    عن ابن عون وابن سيرين ودرسك العلم بآثاره *
    في ترك (1) أبواب السلاطين تقول: أكرهت، فماذا كذا *
    زل حمار العلم في الطين (2) لا تبع الدين بالدنيا كما *
    يفعل ضلال الرهابين
    “Wahai orang yang menjadikan ilmu sebagai barang dagangan untuk menjaring harta orang-orang miskin,
    diambil demi dunia dan kesenangannya.
    Dengan tipu daya engkau menghilangkan agama,
    lalu engkau menjadi orang yang gila setelah dulunya engkau adalah obat bagi orang-orang gila.
    Di manakah riwayat-riwayatmu yang lampau dari Ibnu ‘Aun dan Ibnu Sirin.
    Dan manakah ilmu yang kamu pelajari dengan atsar-atsarnya yang berisi anjuran untuk meninggalkan pintu-pintu penguasa? Kamu berkata: “Aku terpaksa.” Lalu apa?
    Demikianlah keledai ilmu tergelincir di tanah liat yang basah.
    Janganlah kamu jual agama dengan dunia sebagaimana perbuatan para rahib yang sesat.” (“Siyar A’lamin Nubala”/9/110).
    “ Ridho manusia itu adalah puncak yang tak bisa digapai “
    . Al Imam Asy Syafi’iy berkata kepada Yunus bin Abdil A’la رحمهما الله :
    “Ridho manusia itu adalah puncak yang tak bisa digapai. Dan tiada jalan untuk selamat dari mereka. Maka engkau harus memegang apa yang bermanfaat bagimu, lalu tekunilah dia.” (“Siyaru A’lamin Nubala”/10/hal. 89/Biografi Al Imam Asy Syafi’iy/Ar Risalah).
    Ahmad bin Harb bin Fairuz An Naisaburiy رحمه الله berkata:
    “Aku beribadah kepada Alloh selama limapuluh tahun, maka aku tidak mendapatkan kemanisan ibadah hingga aku meninggalkan tiga perkara: Aku meninggalkan keridhoan manusia hingga akupun sanggup untuk berbicara dengan kebenaran. Dan aku meninggalkan persahabatan dengan orang-orang fasiq hingga akupun mendapatkan persahabatan dengan orang-orang sholih. Dan aku tinggalkan manisnya dunia hingga akupun mendapatkan manisnya akhirat.” (“Siyaru A’lamin Nubala”/11/hal. 34/Biografi Ahmad bin Harb/Ar Risalah).

    SIAP MENJADI GOLONGAN ALLAH DAN RASULNYA

    BERKATA IBNUL QOYYIM- RAHIMAHULLAH-

    ولا تستصعب مخالفة الناس و التحيز الى الله ورسوله ولو كنت وحدك فان الله معك وانت بعينه و كلاءته و حفظه لك و انما امتحن يغقينك و صبرك واعظم الاعوان لك على هذا بعد عونن الله التجرد من الطمع و الفزع فمتى تجردت منهما هان عليك التحيز الى الله و رسوله و كنت داءما في اللجانب الذى فيه الله ورسوله

    “Dan janganlah engkau merasa berat untuk menyelisihi manusia dan menggabungkan diri pada golongan Allah dan RasulNya, meskipun engkau sendirian, karena sesungguhnya Allah bersamamu dengan pengawasan, pemeliharaan dan penjagaannya untukmu. Dan hanyalah Allah itu menguji keyakinan dan kesabaranmu. Dan penolong terbesar bagimu untuk itu – setelah pertolongan Allah- adalah melepaskan diri dari sifat tamak (rakus dunia) dan ketakutan. Maka kapan saja engkau bisa lepas dari keduanya, akan ringan bagimu untuk menggabungkan diri kepada golongan Allah dan Rasul- Nya, dan engkau senantiasa berada pada sisi yang disitulah Allah dan Rasul-Nya.”(Al fawa’id ” 1/hal.116)

    “AKIBAT MENGIKUTI NAFSU”


    أرأيت من اتخذ إلهه هواه أفأنت تكون عليه وكيلا
    أم تحسب أن أكثرهم يسمعون أو يعقلون إن هم إلا كالأنعام بل هم أضل سبيلا الفرقان 43-44

    ” Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). ” Al-Furqan 43-44
    “Dasar permusuhan, kejahatan dan kedengkian yang muncul dikalangan manusia ialah karena mengikuti nafsu. Siapa yang menentang nafsunya berarti membuat hati dan badannya menjadi tentram dan sehat. Abu Bakar Al Warraq berkata : “Jika nafsu yang menang, maka hati menjadi gelap. Jika hati menjadi gelap, maka dada terasa sesak. Jika dada menjadi sesak, maka akhlaq menjadi buruk. Jika akhlaq menjadi buruk, maka ia membenci orang lain, dan orang lainpun membencinya. Maka perhatikanlah apa yang diakibatkan nafsu, seperti kebencian, kejahaan, permusuhan, mengabaikan hak orang lain dan sebagainya.”
    “Harus mengetahui bahwa nafsu tidaklah mencampuri sesuatu melainkan ia merusaknya. Jika nafsu mencampuri ilmu, maka ia mengeluarkannya kebid’ah dan kesesatan, pelakunya menjadi kelompok orang yang mengikuti nafsu. Jika nafsu mencampuri zuhud, maka ia mengeluarkan pelakunya kepada riya’ dan menyalahi sunnah. Jika nafsu mencampuri hukum, maka ia mengeluarkan pelakunya kepada kedholiman dan menghalangi kebenaran. Jika nafsu mencampuri pembagian, maka mengeluarkan pembagian itu kepada ketidak adilan dan kebohongan. Jika nafsu mencampuri ibadah, maka ibadah itu akan keluar dari ketaatan dan taqarub. Jadi, selagi nafsu mencampuri sesuatu, maka ia akan merusaknya”. (Dari kitab Raudhah Al-Muhibbin wa nuzhah Al-Musytaqin, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah)

    ''MANFAAT AKAL BAGI SEORANG MUKMIN''


    Muadz bin Jabal Radhiallaahu’anhu berkata :
    “Andaikata orang yang berakal itu mempunyai dosa pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya dia cenderung masih bisa selamat dari dosa dosa itu. Andaikata orang yang bodoh itu mempunyai kebaikan dan kebajikan pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya dia cenderung tidak bisa mempertahankannya sekalipun hanya seberat biji sawi.
    Ada yang bertanya,”Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Muaz bin Jabal Radhiallaahu’anhu menjawab,“Sesungguhnya jika orang yang berakal itu tergelincir maka dia segera menyadarinya dengan cara bertaubat dan menggunakan akal yang dianugerahkan kepadanya. Tetapi orang bodoh itu ibarat orang yang membangun dan merobohkannya. Karena kebodohan itu terlalu mudah melakukan apa yang bisa merusak amal sholehnya”.
    Dari kitab Raudhoh Al-Muhibbin wa nuzhan Al Musytaqin , karya Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah
    TABIAT BABI
    Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah Rahimahullah berkata :

    ومن الناس من طبعه طبع خنزير يمر با لطيبات فلا يلوى عليها فاذا قام الانسان عن رجيعه قمه وهكذا كثير من الناس يسمع منك ويرى من المحاسن اضعااف اضعاف الساوى ء فلا يحفظها ولا تناسبه فائذا راى سقطه او كلمة عوراء وجد بغيته وما يناسبها فا كهته ونقله

    “Dan diantara manusia ada yang tabiatnya tabiat babi. Dia melewati rizki yang baik baik tapi tidak mau mendekatinya. Jusrtu jika ada orang bangkit dari kotorannya (selesai buang hajat), didatanginya kotoran tadi dan dimakannya hingga habis. Demikianlah kebanyakan orang. Mereka mendengar dan melihat darimu sebagian dari kebaikanmu yang berlipa lipat daripada kejelekanmu, tapi dia tidak menghapalnya, tidak menukilnya dan tidak mencocokinya. Tapi jika melihat ketergelincitan atau ucapan yang cacat, dapatlah dia apa yang dicarinya dan mencocokinya, lalu dijadikannya sebagai buah santapan dan penukilan.”
    (Madarijus Salikin 1/hal 403)


    ''LAKNAT BAGI PEMBUAT PERKARA BARU''


    Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata:
    “Siapa saja yang mengatakan sesuatu dengan hawa nafsunya, yang tidak ada seorang imampun yang mendahuluinya dalam permasalahan tersebut, baik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun para sahabat beliau, maka sungguh dia telah mengadakan perkara baru dalam Islam. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Barangsiapa yang mengada-ada atau membuat-buat perkara baru dalam Islam maka baginya laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima infaq dan tebusan apapun darinya’.”

    ''HINDARI MAKAN DAN MENGENAKAN KOTORAN MANUSIA''


    Wahai saudaraku,
    hendaknya engkau memiliki pekerjaan dan penghasilan yang halal yang kamu peroleh dengan tanganmu. Hindari memakan atau mengenakan kotoran-kotoran manusia (maksudnya pemberian manusia -ed). Karena sesungguhnya orang yang memakan kotoran manusia, permisalannya laksana orang yang memiliki sebuah kamar di bagian atas, sedangkan yang di bawahnya bukan miliknya. Ia selalu dalam ketakutan akan terjatuh ke bawah dan takut kamarnya roboh. Sehingga orang yang memakan kotoran-kotoran manusia akan berbicara sesuai hawa nafsu. Dan dia merendahkan dirinya di hadapan manusia karena khawatir mereka akan menghentikan (bantuan) untuknya.
    (kitab Mawa’izh Lil Imam Sufyan Ats-Tsaury, hal. 82-84)

    ''MEMBERIKAN ILMU UNTUK DAPAT BAGIAN DUNIA
    ''


    و عن ابن مسعود رضي الله عنه انه قال : (لو ان اهل العلم صانوا العلم ووضعوه عند اهله لسادوا به اهل زمانهم ولكنهم بذلوه لااهل الدنيا لينالوا به من دنياهم فهانوا عليهم

    “Dari Ibnu Mas’ud sesungguhnya dia telah berkata, “seandainya pemilik ilmu, menjaga ilmu dan mereka meletakkan ilmu pada ahlinya (yang memang berkeinginan terhadap ilmu tersebut) sungguh mereka berbahagia dengan ilmu tersebut pada masa mereka, akan tetapi mereka memberikan ilmu tersebut kepada ahli dunia, agar mereka mendapatkan dengan ilmu tersebut bagian dari dunia mereka (ahli dunia ), maka mereka menjadi hina atas ahli dunia”

    JANGAN MAKAN DARI AGAMA
    العلماء هم الناس
    قول ابن المبارك وقد سئل من الناس ؟ قال العلماء قيل فمن الملوك؟ قال الزهاد قيل فمن السلة ؟قال: الذي يئكل بدينه

    “PARA ULAMA ADALAH MANUSIA YANG HAKIKI, perkataan Ibnu Al Mubarok rahimahullah. Dan sungguh dia telah ditanya, siapa manusia? dia berkata : PARA ULAMA’ , dikatakan siapakah para raja?, dia berkata ORANG ORANG YANG ZUHUD, dikatakan siapa orang orang rendahan ? dia berkata ORANG YANG MAKAN DARI AGAMANYA
    dari kitab AL ILMU fadhluhu wa syarafuhu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar