Total Tayangan Halaman

Minggu, 04 Agustus 2013

Perbedaan Mudaroh dan Mudahanah

Perbedaan Mudaroh dan Mudahanah

Perbedaan Mudaroh dan Mudahanah


Devinisi secara etimologi : 
Ibnu mandzur berkata : mudaroh bersal dari kata “ daro’ahu yadro’uhu dar’an wa dar’atan yang artinya membantah “ tadaro’al qoum, artinya saling berbantah bantahan, adapun mudaroh adalah akhlaq yang baik.
Secara terminologi :
 Ibnu hajar bekata : mudoroh adalah menolak dengan lembut.
Menurut ibnu bathol : mudaroh adalah bersikap dan bertutur kata dengan lembut serta tidak berelebih lebihan dalam berbicara.
Dalam istilah lain di sebutkan mudaroh adalah menghindari mafsadah (kerusakan) dan kejahatan dengan ucapan yang lembut atau meninggalkan kekerasan dan sikap kasar, atau berpaling dari orang jahat jika ditakutkan kejahatannya atau terjadinya hal yang lebih besar dari kejahatan yang sedang dilakukan.
Dalil dalil di perintahkan untuk bermudaroh
Dalil dari al qur’an :
            Allah SWT berfirman “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 14-15)
            Allah berfirman “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah malampaui batas. maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingatatau takut. Berkatalah mereka berdua: “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas. Allah berfirman: “Jangan kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”. Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir’aun). dan katakanlah: “Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Rabbmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka.(QS. Thoha 43-46 ), ibnu katsir berkata : ayat ini mengandung pelajaran yang sangat agung yaitu fir’aun yang berjiwa sombong sementara musa  beakhlaq baik, untuk itu Allah menyuruh musa untuk tidak berbicara kecuali dengan ramah dan tutur kata yang lembut.
Dalil dalil dari as sunnah :
            Dari urwah bin zubair  dari ‘aisyah  Ra nabi SAW bersabda “sesungguhnya manusia yang paling buruk disisi Allah adalah orang yang di tinggalkan oleh manusia karena ia kawatir akan kejahatanya ( HR bukhori 6054, muslim 2591 ).
Rosulullah SAW bersabda” Pergaulilah wanita dengan baik, sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk. Dan sesuatu yang paling bengkok yang terdapat tulang rusuk adalah bagian paling atas. Jika anda meluruskannya dengan seketika, niscaya anda akan mematahkannya, namun jika anda membiarkannya maka ia pun akan selalu dalam keadaan bengkok. Karena itu pergaulilah wanita dengan penuh kebijakan ( HR bukhori 5186, muslim 1468 ). Ibnu hajar berkata : hadits ini memerintahkan kepada kita untuk bersikap mudaroh dalam meluruskan jiwa serta melunakkan hati, dan itu termasuk strategi jitu untuk mendapatkan maaf dari seorang wanita.
            Dari hani bin yazid RA bahwa nabi SAW bersabda : di antara hal yang mendatangkan ampunan adalah menyebarkan salam dan bertutur kata lembut ( HR Tobroni 22/128 ). Al manawi berkata : yaitu lunak dalam berbicara kepada saudaranya dan rendah hati dengan sikap mudaroh bukan bersikap mudahanah ataupun fitnah.
 Dari abu darda’ RA berkata rosulullah SAW bersabda: kami bermuka manis dan bercanda tawa dengan suatu kaum tetapi hati kami melaknat mereka ( di riwayatkan oleh ibnu asakir ).
Imam bukhori membuat satu bab khusus tentang mudaroh di dalam shohihnya yaitu “ bab mudaroh ma’an nas “.
Beberapa bentuk sikap mudaroh :
Tidak selamanya manusia harus bersikap mudaroh, akan tetapi hal itu di butuhkan ketika berinteraksi dengan sebagian individu dan dalam waktu tertentu di antaranya
1.   Ketika orang mu’min dalam keadaan lemah di hadapan orang kafir, syaikhul islam ibnu taimiyyah berkata : ketika orang mu’min mempunyai kekuatan maka di syari’atkan untuk menegakkan agama Allah dengan cara berperang ataupun  lainya tergantung situasi, namun jika orang mu’min dalam keadaan lemah maka ia bersabar atas cobaan yang menimpa tanpa bersikap munafik bahkan di syari’atkan untuk bersikap mudaroh dan tidak berbicara sesuatu yang membuatnya di benci..
2.   Menjaga diri dari para pelaku kejahatan, sebagaimana sabda rosulullah :sesungguhnya manusia yang paling buruk disisi Allah adalah orang yang di tinggalkan oleh manusia karena ia takut akan kejahatanya ( HR bukhori 6054, muslim 2591 ).
3.  Ketika menda’wahi raja, sebagaiman firman Allah “ Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah malampaui batas. maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut ( thoha 43- 44 ).
4.   Kepada orang tua walaupun keduanya musyrik, Allah SWT berfirman “ Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.( al ankabut : 8 ).
5.  Ketika berinteraksi dengan wanita (suami istri red ) untuk menjaga kelestarian rumah tangga, rosulullah SAW bersabda “ Pergaulilah wanita dengan baik, sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk. Dan sesuatu yang paling bengkok yang terdapat tulang rusuk adalah bagian paling atas. Jika anda meluruskannya dengan seketika, niscaya anda akan mematahkannya, namun jika anda membiarkannya maka ia pun akan selalu dalam keadaan bengkok. Karena itu pergaulilah wanita dengan penuh kebijakan ( HR bukhori5186,muslim 1468 ).
6.   Terhadap orang alim ketika mengambil faedah ilmunya.
7.    Terhadap orang yang sedang sakit, qodhi abu yusuf berkata “ lima hal wajib bagi manusia untuk bersikap mudaroh yaitu kepada, raja yang berkuasa, hakim yang suka mentakwil, wanita, orang yang sakit, dan orang alim yang di ambil ilmunya.
MUDAHANAH
Adapun mudahanah adalah antonim dari mudaroh. Imam al qurtubi membedakan antara keduanya bahwa mudaroh adalah mengorbankan dunia untuk kemaslahatan din atau  dunia atau kedua duanya dan itu di bolehkan bahkan di anjurkan , adapun mudahanah adalah mengorbankan din untuk urusan dunia.Fathul bari 10/454
Imam ghozali berkata : perbedaan antara mudaroh dengan mudahanah adalah tergantung motif tujuanya jika kamu mempertaruhkannya agar selamat agamamu ataupun memperbaiki hubungan baik dengan saudaramu maka kamu bermudaroh, namun jika kamu mengorbankan dunia karena keselamatan dirimu dengan memenuhi syahwatmu dan ambisimu maka kamu bermudahanah.
Dalam istilah lain disebutkan mudahanah adalah : berpura-pura, menyerah dan meninggalkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar serta melalaikan hal tersebut karena tujuan duniawi atau ambisi pribadi. Maka berbaik hati, bermurah hati atau berteman dengan ahli maksiat ketika mereka berada dalam kemaksiatannya, sementara ia tidak melakukan pengingkaran padahal ia mampu kelakukannya maka itulah mudahanah..  Tauhid Syaikh Fauzan bin Fauzan jilid 1 

Bersikap mudahanah adalah haram
Allah SWT berfirman : Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). ( al qolam 8-9 ).
Allah berfirman : Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir diantara mereka.( al insan 24 )
Allah juga berfirman: Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentu|ah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. ( al isra’ 73-75 ).
            Ayat ayat di atas menjelaskan tentang haramnya bersikap mudahanah terhadap kemungkaran karena berakibat fatal yaitu tidak tersampikanya ilmu dan kebenaran.
AKIBAT BERSIKAP MUDAHANAH
1.         Secara moral sifat ini merusak dirinya dan lebih lebih akan merusak moral para pelaku kemungkaran yang di diamkanya.
2.         Secara mentalitas sifat mudahanah menjadi indikasi bahwa imanya lemah dan bisa jadi hilang imanya.
3.    Menyebabkan tertularnya adzab akibat dosa dari pelaku kemungkaran, dari Ibnu Abbas ia bertanyakepadaRosul:”Wahai Rasulullah, apakah mungkin suatu kampong akan ditimpa bencana ,padahal disana banyak orang-orang yang soleh?” Rasul menjawab: Ya, tentu. Karena lemah dan diamnya mereka dari para pelaku maksiat.” (H.R. Thabrani).
4.     Seakan akan memberi isyarat jalan bagi orang awam untuk terlibat dalam kemungkaran, karena beranggapan bahwa kemungkaran itu mendapat restu dari orang alim yang lebih mengetahui hukumnya.
5.         Mendapat julukan resmi dari rosulullah SAW sebagai setan bisu.
Dan lebih dari itu urgensinya si pelaku termasuk dalam kategori sabda rosulullah SAW yaitu menjual agama demi kemasahatan dunia, semoga kita terhindar dari sikap bermudahanah. Wallahu ‘alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar