Total Tayangan Halaman

Jumat, 26 Juli 2013

''KISAH KETIKA MENGURUS JENAZAH RASOLULLOH''


KETIKA Rasulullah s.a.w. baru saja wafat, adalah diriwayatkan bahawa ketika Sayyidina Ali Bin Abu Talib r.a meletakkan jasad baginda diatas tempat tidurnya,tiba-tiba terdengar suara ghaib dari penjuru rumah berseru dengan nada tinggi:”"Jangan kamu mandikan jenazah Muhammad,kerana ia adalah orang yang suci lagi pula membawa kesucian!”Ali curiga terhadap suara itu seraya ia bertanya:
“Siapakah engkau?Bukankah Rasulullah menyuruh kami memandikannya.?Tiba-tiba terdengar suara ghaib yang lain berseru sebaliknya:
“Hai Ali!Mandikanlah Beliau!Suara ghaib yang pertama itu berasal dari suara iblis yang terkutuk kerana dengki terhadap Muhammad s.a.w. dan ia bermaksud supaya Nabi Muhammad tidak dimasukkan kedalam liang kuburnya dalam keadaan dimandikan.”
Ujar Ali pula:”Semoga Allah membalasi engkau dengan kebajikan dikala engkau memberitahukan,bahawa suara itu berasal dari iblis.Sekarang saiapakah pula sebenarnya engkau sendiri?”
“Aku adalah Khidir.aku datang untuk menzirahi jenazah Muhammad s.a.w.”Jawab suara itu.
Kemudian Saiyidina Ali r.a pun memandikan jenazah Rasulullahs.a.w.sedang AlFadhal Bin Abbas dan Usamah Bin Zaid r.a menimbakan air dan malaikat Jibril datang membawa harum-haruman dari syurga.Mereka kapani dan kuburkan beliau di kamar rumah Siti Aishah pada malam Rabu dan ada yang mengatakan pada malam Selasa.
Kewafatan baginda telah menyebabkan kesedihan yang bukan sedikit dikalangan seluruh ummat,lebih-lebih lagi para sahabat yang terdekat.Kata -kta yang dilahirkan oleh para sahabat demi setelah mengetahui kewafatan beliau amatlah mengharukan.
Seketika membuka kain selubung yang menutupi wajah Rasulullah yang baru saja wafat,Syaidina Abu Bakar AsSiddiq berkata dengan penuh terharu:
“Demi ayah dan bondaku!Alangkah indahnya hidupmu dan alangkah indahnya matimu!Demi Allah!Sekali-kali tidak akan terkumpul dua kematian atas dirimu.Adapun mati yang telah ditentukan Allah bagimu,telah kau alami.Dan setelah itu takkan ada lagi kematian yang datang kepadamu buat selam-lamanya!”
Hassan Bin Thabitr.a salah seorang sahabat Rasulullahs.a.w. yang utama dan penyair Islam yang agung dizaman Rasulullah,telah menerima berita kewafatan baginda dengan berat sekali.Kesedihan yang dirasakannya dapat kita saksikan dari sebuah sajak yang ditinggalkan sejurus kewafatan Rasulullah:
“duhai ,engkaulah biji mataku
Dengan kematianmu,
aku menjadi buta
tak dapat melihat
siapa yang ingin mati sepeninggalmu
biarlah ia mati pergi menemui ajalnya
Aku,hanya risau haru dengan pemergianmu…..”
Tetapi antara banyak orang tentu sekali yang paling merasakan berat atas kewafatan baginda ialah kaum keluarganya yang terdekat seperti puteri baginda yang paling dikasihinya Siti fatimah serta balu-balu baginda terutama Siti Aisyah r.a.
Pernah suatu hari,Ummu Mukminin Siti Aisyah r.a bersenandung dengan suara teharu sambil berdiri dikubur Nabi s.a.aw. Katanya:
“Wahai insan yang tidak pernah memakai sutera
Yang tak pernah tidur diatas tilam yang empuk
Wahai insan yang keluar dari dunia dan perutnya
Tidak pernah kenyang dengan roti dan gandum
Wahai insan yang memilh tikar tempat tidurnya
Wahai insan yang berjaga sepanjang malam tanpa tidur’
Kerana takut sentuhan neraka sa’ir…….”
Ada riwiyatkan sepeninggal ayahnya,orang melihat Siti fatimah Azzahra selalu berikat kepala,tubuhnya semakin kurus dan matanya membengkak kerana menagis terus menerus,bahkan ia sering tidak sedarkan diri.kepada putera-puteranya ia selalu mengatakan:
“Mana dia ayah yang mencintai kalian itu?Aku tidak pernah lagi melihat dia membuka pintu ini.Kalian tidak akan pernah lagi naik keatas punggungnya seperti yang biasa kalian lakukan…”
Pohon yang biasanya mendapatkan kasih sayang itu ,semakin layu dan mengering………

Kamis, 25 Juli 2013

Muslimah Menjadi Sekretaris Pribadi, Bolehkah,,??

Muslimah Menjadi Sekretaris Pribadi, Bolehkah,,??

Muslimah Rusia (Ilustrasi).
Salah satu pekerjaan yang kerap menjadi gunjingan di masyarakat adalah sekretaris pribadi. Perempuan yang menekuni pekerjaan ini sering tak luput dari sasaran tembak cemoohan di kalangan istri, tetangga, atau mungkin teman sekantor. Agak riskan memang.

Intensitas dan frekuensi kedekatan sekretaris dengan atasannya itu, di satu sisi merupakan bagian dari tuntunan kerja, tetapi pada saat bersamaan memancing prasangka-prasangka tak sedap di luar sana. Bahkan, tak jarang pula kekhawatiran jalinan kasih antara sekretaris dan atasannya benar-benar terjadi. Beberapa kasus bahkan saling terikat dalam hubungan gelap yang terlarang. 

Karena itulah, Syekh Muhammad Mutawalli as-Sya’rawi dalam bukunya yang berjudul Fiqh al-Mar’ah al-Muslimah mengatakan, memang secara umum perempuan diperkenankan bekerja dengan ketentuan-ketentuan tertentu. Ini seperti yang terjadi dalam kisah kedua anak perempuan Nabi Syu’aib AS. Tetapi, bisa saja akibat satu dan lain hal dispensasi tersebut berubah.

Dalam kasus sekretaris pribadi tersebut, kata tokoh kelahiran Daqahlia, 16 April 1911 M, itu, sangat rentan terkontaminasi dengan larangan-larangan, seperti berkhalwat (berduaan) dengan lawan jenis yang bukan mahram. Jika tidak bisa menghindari hal itu, haram hukumnya menjadi sekretaris pribadi. Sebuah riwayat Bukhari Muslim menyebutkan, hendaknya menjauhi berkhalwat dengan perempuan nonmahram.

Pandangan serupa disampaikan oleh Syekh Yusuf al-Qaradhawi. Ketua Persatuan Ulama Sedunia itu menyarankan agar Muslimah tidak memilih profesi sekretaris pribadi. Pekerjaan ini sangat riskan. Tetapi, ini bukan berarti bahwa Muslimah dilarang bekerja.

Justru sebaliknya, mereka memiliki kesempatan yang sama dengan syarat-syarat tertentu, seperti jenis profesinya haruslah halal, tetap menjaga etika sebagai Muslimah, dan tentunya kesibukannya di luar rumah tersebut tidak mengalihkannya dari tanggung jawab utama, yakni mengatur urusan rumah tangga. Entah mendidik anak atau mengurus suami, misalnya.  

Syekh as-Sya’rawi menambahkan, bila memang tak ada lagi jenis pekerjaan selain menjabat sebagai sekretaris, sementara ia mesti menghidupi anggota keluarganya seorang diri, alumnus Universitas Al-Azhar Mesiru tersebut mewanti-wanti tidak gampang terjerumus dan berhati-hati. Sebisa mungkin menutup celah maksiat.. 

Dengan demikian, ada beberapa ketentuan yang mesti diperhatikan bila tetap mesti menjadi sekretaris, antara lain, menghindari khalwat, menjaga tata cara berpakaian, tidak berlebihan memakai wewangian, dan hendakya tidak melalaikan kewajibannya terhadap tugas internal keluarga.

wallahu A'lam Bi showab......

''Kisah status kedua orang tua nabi muhammad saw''

Persoalan ini bukan prinsip agama yang berdampak pada status keimanan seseorang.

Pertanyaan ini cukup menggelitik. Tetapi, penting menemukan jawaban yang tepat. Di satu sisi, hadis riwayat Muslim menyebutkan bahwa Rasulullah SAW sendiri menegaskan bahwa kedua orang tuanya,ada di neraka. Pernyataan Rasul tersebut merespons pertanyaan perihal nasib kedua orang tua seorang sahabat. “Sesungguhnya, kedua orang tuamu dan orang tuaku ada di neraka,” sabda Rasul.

Tetapi, di sisi lain ada satu fakta bahwa kedua orang tua Nabi hidup pada masa kevakuman seorang nabi dan rasul. Pascameninggalnya Nabi Isa AS belum ada lagi sosok Rasul yang diutus untuk berdakwah dan membimbing segenap umat. Karena itu, mereka yang berada pada periode kekosongan risalah itu dinyatakan selamat dan tidak mendapat siksa. “Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS al-Isra' [17]: 15).

Topik ini pun menuai pro dan kontra. Syekh Abdullah bin Baz berpandangan bahwa riwayat Muslim tersebut autentik dan valid. Tidak mungkin Rasul berdusta atas ucapannya sendiri (QS an-Najm 1-4).

Kedua orang tua Rasul akan diminta pertanggungjawaban. Apalagi, telah terjadi penyimpangan atas ketulusan agama Ibrahim AS. Ini berlangsung ketika Amr bin Luhay al-Awza'i melakukan penodaan agama Ibrahim. Selama menguasai Makkah, Amr mengajak para penduduknya untuk menyembah berhala.

Karena itu, kedua orang tua Rasul, menurut Syekh Abdullah bin Baz, termasuk golongan kufur. Ini merujuk pula pada hadis riwayat Muslim yang mengisahkan bahwa Allah SWT melarang Rasul mendoakan keselamatan keluarganya, tak terkecuali ayahandanya, Abdullah bin Abdul Muthalib, dan ibundanya, Aminah.  

Namun Lembaga Fatwa Mesir, Dar al-Ifta, menyanggah keras pernyataan Syekh Abdullah bin Baz tersebut. Menurut lembaga yang pernah dipimpin oleh Mufti Agung Syekh Ali Juma'h itu, pernyataan bahwa kedua orang tua  Rasul termasuk kufur dan akan menghuni neraka merupakan bentuk arogansi dan ketidaksopanan.

Justru fakta kuat mengatakan, kedua orang Rasul akan selamat dan bukan termasuk penghuni neraka. Pendapat ini menjadi kesepakatan mayoritas ulama. Tak sedikit ulama yang secara khusus menulis risalah sederhana untuk menjawab kegamangan menyikapi topik ini.

Imam as-Suyuthi mengarang dua kitab sekaligus untuk menguatkan fakta bahwa orang tua Muhammad SAW akan selamat. Kedua kitab itu bertajuk Masalik al-Hunafa fi Najat Waliday al-Musthafa dan at-Ta'dhim wa al-Minnah bi Anna Waliday al-Mushthafa fi al-Jannah.

Selain kedua kitab tersebut, ada deretan karya lain para ulama, seperti ad-Duraj al-Munifah fi al-Aba' as-Syarifah, Nasyr al-Alamain al-Munifain fi Ihya al-Abawain as-Syarifain, al-Maqamah as-Sundusiyyah fi an-Nisbah al-Musthafawiyyah, dan as-Subul al-Jaliyyah fi al-Aba' al-Jaliyyah. Masih banyak kitab lain yang membantah dugaan bahwa orang tua Rasul akan masuk neraka.

Dar al-Ifta memaparkan, mengacu ke deretan kitab tersebut, kedua orang tua Rasul hidup pada masa fatrah atau kekosongan risalah. Ketika itu, dakwah tidak sampai pada masyarakat Makkah. Ulama ahlussunnah sepakat, mereka yang hidup pada periode kevakuman risalah itu dinyatakan selamat. Ini merujuk pada ayat ke-15 surah al-Isra' di atas.

Sekalipun keduanya akan melalui ujian melintasi jembatan shirath, seperti halnya umat lainnya maka keduanya termasuk golongan yang taat. “Berbaiksangkalah kedua orang tua Rasul merupakan golongan taat saat ujian melintasi jembatan,” kata Imam Ibn Hajar al-Asqalani, seperti dinukilkan oleh Dar al-Ifta'

Tuduhan bahwa keduanya termasuk kaum musyrik yang menyekutukan Allah dengan berhala, tidak benar. Abdullah dan Aminah tetap konsisten dalam keautentikan agama Ibrahim, yaitu tauhid. Fakta kesucian keyakinan kedua orang tua Rasul ini dikuatkan antara lain oleh Imam al-Fakhr ar-Razi dalam kitab tafsirnya Asrar at-Tanzil kala menafsirkan ayat ke 218-219 surah as-Syu'ara .

Imam as-Suyuthi menambahkan, dalil lain tentang fakta bahwa garis keturunan Rasul yang terdekat terjaga dari aktivitas penyimpangan akidah. Ini seperti ditegaskan hadis bahwa Rasululllah dilahirkan dari garis nasab yang istimewa dan terpilih yang konsisten terhadap tauhid.

Imam as-Suyuthi kembali menerangkan soal hadis Muslim pada paragraf pertama. Tambahan redaksional “Dan ayahku di neraka” sangat kontroversial di kalangan pengkaji hadis. Para perawi tidak sepakat tambahan tersebut. Sebut saja al-Bazzar, at-Thabrani, dan al-Baihaqi yang lebih memilih tambahan redaksi “Jika engkau melintasi kuburan orang kafir maka sampaikan berita neraka” dibanding, imbuhan bermasalah tersebut.

Arogansi
Ada banyak argumentasi yang membantah dugaan bahwa kedua orang tua Rasul akan masuk neraka. Semestinya, tuduhan tersebut tidak ditudingkan kepada ayahanda dan ibunda Rasul yang terhormat. Karena, itu adalah bentuk arogansi terhadap Rasul.

Qadi Abu Bakar Ibn al-Arabi pernah ditanya soal topik serupa. Tokoh bermazhab Maliki ini pun menjawab, bila soal itu direspons dengan jawaban bahwa keduanya masuk neraka maka terlaknatlah orang yang menjawab demikian. Menganggap keduanya ahli neraka adalah bentuk melukai perasaan Rasul. “Tak ada penganiayan lebih besar ketimbang menyebut kedua orang tua Muhammad SAW penghuni neraka,” kata Ibn al-Arabi.

Ia pun mengutip ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS al-Ahzab [33]:57).

Reaksi keras juga ditunjukkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ketika itu, ia menginstruksikan pegawainya agar mengutamakan para pegawai yang kedua orang tuanya Muslim dan berasal dari etnis Arab.

Dengan spontan, sang pegawai menjawab instruksi tersebut dan mengatakan, “Memang masalah? Bukankah kedua orang tua Rasulullah non-Muslim?” Sang Khalifah marah besar. Ia pun langsung memberhentikan pegawainya tersebut agar menjadi pelajaran bagai semua dan tidak sembarangan bicara.

Atas dasar inilah, seyogianya tidak mudah menjustifikasi status kedua orang tua Rasul. Mantan Mufti Dar al-Ifta, Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi'I, mengimbau supaya umat berhati-hati. Tuduhan kekufuran Abdullah dan Aminah salah besar dan pelakunya berdosa.
Ini lantaran dianggap sebagai aksi mencederai Rasulullah. Para pelaku tersebut tidak dihukumi keluar agama akibat perbuatannya itu. Pasalnya, persoalan ini bukan termasuk prinsip agamadharuriyyat ad-din.

WALLAHU A'LAM BI SHOWAB........

KISAH THAUBATNYA MALIK BIN DINAR

Diriwayatkan dari Malik bin Dinar, dia pernah ditanya tentang sebab-sebab dia bertaubat, maka dia berkata : "Aku adalah seorang polisi dan aku sedang asyik menikmati khamr, kemudian aku beli seorang budak perempuan dengan harga mahal, maka dia melahirkan seorang anak perempuan, aku pun menyayanginya.
Ketika dia mulai bisa berjalan, maka cintaku bertambah padanya. Setiap kali aku meletakkan minuman keras dihadapanku anak itu datang padaku dan mengambilnya dan menuangkannya di bajuku, ketika umurnya menginjak dua tahun dia meninggal dunia, maka aku pun sangat sedih atas musibah ini.
Ketika malam dipertengahan bulan Sya�ban dan itu di malam Jum�at, aku meneguk khamr lalu tidur dan belum shalat isya�. Maka akau bermimpi seakan-akan qiyamat itu terjadi, dan terompet sangkakala ditiup, orang mati dibangkitkan, seluruh makhluk dikumpulkan dan aku berada bersama mereka, kemudian aku mendengar sesuatu yang bergerak dibelakangku.
Ketika aku menoleh ke arahnya kulihat ular yang sangat besar berwarna hitam kebiru-biruan membuka mulutnya menuju kearahku, maka aku lari tunggang langgang karena ketakutan, 
Ditengah jalan kutemui seorang syaikh yang berpakaian putih dengan wangi yang semerbak, maka aku ucapkan salam atasnya, dia pun menjawabnya, maka aku berkata : 
"Wahai syaikh ! Tolong lindungilah aku dari ular ini semoga Allah melindungimu". Maka syaikh itu menangis dan berkata padaku :
"Aku orang yang lemah dan ular itu lebih kuat dariku dan aku tak mampu mengatasinya, akan tetapi bergegaslah engkau mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu", 
Maka aku bergegas lari dan memanjat sebuah tebing Neraka hingga sampai pada ujung tebing itu, aku lihat kobaran api Neraka yang sangat dahsyat, hampir saja aku terjatuh kedalamnya karena rasa takutku pada ular itu. Namun pada waktu itu seorang menjerit memanggilku, 
"Kembalilah engkau karena engkau bukan penghuni Neraka itu!", aku pun tenang mendengarnya, maka turunlah aku dari tebing itu dan pulang. Sedang ular yang mengejarku itu juga kembali. Aku datangi syaikh dan aku katakan, 
"Wahai syaikh, aku mohon kepadamu agar melindungiku dari ular itu namun engkau tak mampu berbuat apa-apa". Menangislah syaikh itu seraya berkata, "Aku seorang yang lemah tetapi pergilah ke gunung itu karena di sana terdapat banyak simpanan kaum muslimin, kalau engkau punya barang simpanan di sana maka barang itu akan menolongmu" 
Aku melihat ke gunung yang bulat itu yang terbuat dari perak. Di sana ada setrika yang telah retak dan tirai-tirai yang tergantung yang setiap lubang cahaya mempunyai daun-daun pintu dari emas dan di setiap daun pintu itu mempunyai tirai sutera.
Ketika aku lihat gunung itu, aku langsung lari karena kutemui ular besar lagi. Maka tatkala ular itu mendekatiku, para malaikat berteriak : "Angkatlah tirai-tirai itu dan bukalah pintu-pintunya dan mendakilah kesana!" Mudah-mudahan dia punya barang titipan di sana yang
dapat melindunginya dari musuhnya (ular).
Ketika tirai-tirai itu diangkat dan pintu-pintu telah dibuka, ada beberapa anak dengan wajahberseri mengawasiku dari atas. Ular itu semakin mendekat padaku, maka aku kebingungan, berteriaklah anak-anak itu :
"Celakalah kamu sekalian!, Cepatlah naik semuanya karena ular besar itu telah mendekatinya"Maka naiklah mereka dengan serentak, aku lihat anak perempuanku yang telah meninggal ikutmengawasiku bersama mereka. Ketika dia melihatku, dia menangis dan berkata :
"Ayahku, demi Allah!" Kemudian dia melompat bak anak panah menuju padaku, kemudian dia ulurkan tangan kirinya pada tangan kananku dan menariknya, kemudian dia ulurkan tangan
kanannya ke ular itu, namun binatang tersebut lari.
Kemudian dia mendudukkanku dan dia duduk di pangkuanku, maka aku pegang tangan kanannyauntuk menghelai jenggotku dan berkata :
"Wahai ayahku! Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah". (QS. Al-Hadid : 16). 
Maka aku menangis dan berkata : "Wahai anakku!, Kalian semua faham tentang Al-Qur�an", maka dia berkata :
"Wahai ayahku, kami lebih tahu tentang Al-Qur�an darimu", aku berkata : 
"Ceritakanlah padaku tentang ular yang ingin membunuhku", dia menjawab : 
"Itulah pekerjaanmu yang buruk yang selama ini engkau kerjakan, maka itu akan memasukkanmu ke dalam api Neraka", akau berkata :
"Ceritakanlah tentang Syaikh yang berjalan di jalanku itu", dia menjawab : "Wahai ayahku, itulah amal shaleh yang sedikit hingga tak mampu menolongmu", aku berkata : 
"Wahai anakku, apa yang kalian perbuat di gunung itu?", dia menjawab : "Kami adalah anak-anak orang muslimin yang di sini hingga terjadinya kiamat, kami menunggu kalian hingga datang pada kami kemudian kami memberi syafa�at pada kalian". (HR. Muslim dalam shahihnya No. 2635).
Berkata Malik : "Maka akupun takut dan aku tuangkan seluruh minuman keras itu dan kupecahkan seluruh botol-botol minuman kemudian aku bertaubat pada Allah, dan inilah cerita tentang taubatku pada Allah".

THAUBATNYA SEORANG PEZINA

Imam Muslim dalam Shahihnya , dan juga para penulis kitab sunnah telah meriwayatkan sebuah kisah taubat yang paling mengagumkan yang diketahui oleh manusia. 
Pada suatu hari Rasulullah duduk di dalam masjid, sementara para sahabat beliau duduk mengitari beliau. Beliau mengajari, mendidik dan mensucikan (hati) mereka.
Majelis tersebut dipenuhi oleh sahabat besar Nabi .
Tiba-tiba datanglah seorang wanita berhijab masuk ke pintu masjid. Kemudian Rasul pun diam, dan diam pula para sahabat beliau .
Wanita tersebut menghadap dengan perlahan, ia berjalan dengan penuh gentar dan takut, ia lemparkan segenap penilaian dan pertimbangan manusia, ia lupakan aib dan keburukan, tidak takut kepada manusia, atau mata manusia dan apa yang akan dikatakan oleh manusia.
Hingga sampailah dirinya dihadapan Rasulullah , kemudian ia berdiri di hadapan beliau, dan mengabarkan kepada beliau bahwa sesungguhnya ia telah berzina!!
Wanita tersebut berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah melakukan (maksiat yang mewajibkan adanya) hukuman had (atasku), maka sucikanlah aku!”
Apa yang diperbuat oleh Rasulullah ?!
Apakah beliau meminta persaksian dari para sahabat atas wanita tersebut?
Tidak, bahkan memerahlah wajah beliau hingga hampir-hampir meneteskan darah. Kemudian beliau mengarahkan wajah beliau ke arah kanan, dan diam, seakan-akan beliau tidak mendengar sesuatu. 
Rasulullah berusaha agar wanita ini mencabut perkataannya, akan tetapi wanita tersebut adalah wanita yang istimewa, wanita yang shalihah, wanita yang keimanannya telah menancap di dalam hatinya. 
Maka Nabi bersabda kepadanya: “Pergilah, hingga engkau melahirkannya.”
Berlalulah bulan demi bulan, dia mengandung putranya selama 9 bulan, kemudian tibalah masa kelahiran.
Maka pada hari pertama nifasnya, diapun datang dengan membawa anaknya yang telah diselimuti kain dan berkata: “Wahai Rasulullah, sucikanlah aku dari dosa zina, inilah dia, aku telah melahirkannya, maka sucikanlah aku wahai Rasulullah!”
Maka Nabipun melihat kepada anak wanita tersebut, sementara hati beliau tercabik-cabik karena merasakan sakit dan sedih, dikarenakan beliau menghidupkan kasih sayang terhadap orang yang berbuat maksiat.
Siapa yang akan menyusui bayi tersebut jika ibunya mati ? Siapakah yang akan mengurusi keperluannya jika had (hukuman) ditegakkan atas ibunya ?
Maka Nabi bersabda: “Pulanglah, susuilah anakmu, maka jika engkau telah menyapihnya, kembalilah kepadaku.”
Maka wanita itupun pergi ke rumah keluarganya, dia susui anaknya, dan tidaklah bertambah keimanannya di dalam hatinya kecuali keteguhan, seperti teguhnya gunung. Tahunpun bergulir berganti tahun. 
Kemudian wanita itu datang dengan membawa anaknya yang sedang memegang roti. 
Dia berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah menyapihnya, maka sucikanlah aku!”
Dia dan keadaannya sungguh sangat menakjubkan! Iman yang bagaimanakah yang membuatnya berbuat demikian. Tiga tahun lebih atau kurang, yang demikian tidaklah menambahnya kecuali kekuatan iman.
Nabi mengambil anaknya, seakan-akan beliau membelah hati wanita tersebut dari antara kedua lambungnya. Akan tetapi ini adalah perintah Allah, keadilan langit, kebenaran yang dengannya kehidupan akan tegak.
Nabi bersabda: “Siapa yang mengkafil (mengurusi) anak ini, maka ia adalah temanku di sorga seperti ini…” Kemudian beliau memerintahkan agar wanita tersebut dirajam.
Dalam sebuah riwayat bahwa Nabi memerintahkan agar wanita itu dirajam, kemudian beliau menshalatinya. Maka berkatalah Umar : “Anda menshalatinya wahai Nabi Allah, sungguh dia telah berzina.” Maka beliau bersabda:
“Sungguh dia telah bertaubat dengan satu taubat, seandainya taubatnya itu dibagikan kepada 70 orang dari penduduk Madinah, maka taubat itu akan mencukupinya. Apakah engkau mendapati sebuah taubat yang lebih utama dari pengorbanan dirinya untuk Allah ?” (HR. Ahmad)
Sesungguhnya ini adalah rasa takut kepada Allah. Sesungguhnya itu adalah perasaan takut yang terus menerus berada pada diri wanita mukminah tersebut saat dia terjerumus ke dalam jerat-jerat syetan, dia menjawab jerat-jerat tersebut pada saat lemah.
Ya, dia telah berbuat dosa, akan tetapi dia berdiri dari dosanya dengan hati yang dipenuhi oleh iman, dan jiwa yang digerakkan oleh panasnya maksiat. Ya, dia telah berdosa, akan tetapi telah tegak pada hatinya tempat pengagungan terhadap Dzat yang dia bermaksiat kepada-Nya. Sesungguhnya ini adalah taubat sejati wahai hamba-hamba Allah.
Dan yaa...inilah taubat nashuha duhai sahabatku....inilah taubat nashuha....
 
Wallahu a'lam bi showab.....

Wahsyi bin Harb, Ingin Taubat Sebenar-benar Taubat


Wahsyi bin Harb, Ingin Taubat Sebenar-benar Taubat

tombakAdakah sampai kepadamu penggalan hikayat Wahsyi bin Harb? Seorang budak yang dimiliki oleh pembesar Quraisy Jubair bin Muth’im. Oleh tuannya dan Hindun bin Utbah, ia dijanjikan kemerdekaan apabila berhasil membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib.
“Telah kutebus kemerdekaanku dengan membunuh paman Muhammad namun mengapa aku masih merasa sebagai seorang budak? Dimanakah kemerdekaan hakiki itu?” Itulah tanya Wahsyi pada dirinya. Resah. Sempat ia menangis tetapi dia sendiri bingung tangis itu untuk apa. Serasa ada sebuah bongkahan batu besar yang mengganjal hatinya. Wahsyi menyadari dirinya tidak bahagia seperti yang diinginkannya walau ia telah merdeka.
Satu per satu sahabatnya ditemukan telah memeluk agama Muhammad. Ablah, sahabatnya yang juga budak Jubair bin Muth’im, membuatnya tak habis pikir bahwa Ablah bisa seteguh itu melewati masa-masa penyiksaan oleh tuannya. Di kemudian hari didapati pula Suhail, sahabatnya telah mengimani agama Muhammad dan hijrah ke Tsaqif. Pun ada rasa cemburu ketika Rasulullah memuliakan Bilal dan berita mengejutkan lainnya seperti Khalid bin Walid serta Wishal seorang pelacur yang telah lebih dulu mengumumkan keislamannya.
Kecamuk dalam hatinya kian hebat. Pergolakan batin setelah perang Uhud itu justru melanda jiwa dan pikirannya. Kemerdekaan telah didapatkannya, namun ketenangan jiwa masih jauh dari dirinya. Akankah ia mengikuti agama tauhid ini? Dorongan hatinya mengatakan demikian. Perlahan ia menyadari, inilah pintu kebebasan sesungguhnya yang ia cari-cari. Kebenaran yang tak sanggup diingkarinya
Akhirnya Wahsyi melangkah menghadap Rasulullah dengan iman di dadanya. Seberkas cahaya Allah yang telah merasuk ke hati membuatnya yakin melawan segala ketakutan atas bayang-bayang masa lalu. Wahsyi telah berada dalam naungan Islam yang agung. Dia memilih agama tauhid ini mengikuti sisi hatinya yang fitrah. Dalam perang-perang melawan para pembangkang Islam, dia senantiasa turut serta dalam pasukan. Ya, menjadi mujahid adalah jalan hidupnya.
Namun keislamannya harus dibayar dengan suatu kerinduan yang sangat dalam kepada Rasulullah. Suatu ketika Rasulullah memanggil memintanya menceritakan bagaimana ia membunuh orang terkasihnya, Hamzah bin Abdul Muthalib.
“Celakalah engkau, hai Wahsyi! Kumohon, palingkan wajahmu dariku!” Itulah pinta Rasul kepada Wahsyi. Rasul sadar dirinya tak pernah sanggup melihat wajah Wahsyi. Hatinya perih teringat sang paman. Rasul khawatir hal ini membuatnya membenci Wahsyi sebagai saudara yang seharusnya dapat diperlakukan seperti sahabat lainnya.
Inilah dakwah Rasulullah, beliau berdakwah bahkan kepada orang yang nyaris tak sanggup beliau maafkan kesalahannya. Sementara Wahsyi sebagai jundi yang taat menyadari posisinya. Tanpa banyak tanya, dia mematuhi perintah Rasullullah. Dengan kebeningan hati, ia sanggup menuruti perintah itu walaupun getir dan pahit. Terbayang betapa remuk hatinya. Rasul enggan menatapnyaa. Wahsyi memilih duduk disudut mesjid agar Rasulullah tidak melihatnya ketika berkhutbah. Hatinya menangis, merindukan Rasulullah. Entah berapa lama Wahsyi menunggu panggilan kedua dari Rasul. Yang bisa ia lakukan hanya mencuri-curi pandang ke arah Rasulullah sambil berharap Rasul memanggilnya dan bersitatap dengannya. Namun harapan itu tak kunjung terwujud sampai akhirnya ia mendengar berita wafatnya Rasulullah. Hatinya semakin remuk mengetahui kenyataan bahwa panggilan yang ditunggu sekian lama itupun akhirnya sungguh lenyap ditelan waktu.
Selepas wafatnya Rasul, Wahsyi terus berjuang bersama para sahabat melawan musuh-musuh Islam. Ia terus beramal dan suatu ketika pada perang Yamamah, Wahsyi berharap dapat nenebus kesalahannya dengan membunuh Musailamah si nabi palsu dengan tombak yang sama ia gunakan ketika menusuk Hamzah. Saat tombaknya menusuk dada Musailamah hingga tersungkur roboh, ia langsung sujud syukur dengan mata mendanau. “Wahai Rasulullah, apakah sekarang aku sudah boleh menatapmu memelukmu?” Ya, kiranya lirih itu yang mengalir bersama air matanya.
Sungguh, mengingat kembali kisah Wahsyi ini pun membuat kita resah. Kisah taubat sebenar-benar taubat. Siapakah yang mampu menjamin taubat kita lebih baik darinya? Aah Rasulullah ijinkan kami menatapmu lamat-lamat disurga kelak..

''Thaubatnya wahsyi bin Harb''

 “Katakanlah Wahai hamba-hamba Ku, yang telah melampaui batas dalam berbuat dosa jangan berputus asa dari kasih sayang Allah, sungguh Allah Maha Mengampuni semua dosa, dan sungguh Allah Maha pengampun dan berkasih sayang” (QS Azzumar 53)

kisah wahsyiDiriwayatkan oleh Hujjatul Islam wabarakatul anam Al Imam Qadhi’iyad didalam kitabnya Assyifa, menukilkan riwayat ayat ini adalah: Ketika Sang pembunuh Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu’anhu (pamannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), yaitu Wahsyi seorang budak yang memang sengaja membunuh Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthallib radhiyallahu’anhu di dalam perang Uhud, di saat perang Uhud itu Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthallib di tombak dari kejauhan dari belakang tubuhnya hingga wafat dan Wahsyi tidak cukup hanya dengan itu, Wahsyi membelah dada Sayyidina Hamzah, mengeluarkan jantungnya, memotong hidung dan telinga dan bibir dan mencungkil ke dua matanya lantas di bawakan kepada Hindun.
Hadirin Hadirat, inilah dosanya Wahsyi orang yang telah membunuh pamannya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mengeluarkan jantungnya dari dadanya, jenazah itu di robek dan di keluarkan jantungnya, dicungkil ke dua mata, bibir, hidung dan kedua telinganya dan di bawakan untuk tuannya.
Lalu di saat itu, disaat Fatah Makkah, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke Makkah dengan 100 ribu muslimin muslimat, Wahsyi melarikan diri, ia menjauhkan diri sampai kepantai, Istrinya datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Wahai Rasul, suamiku mempunyai dosa yang sangat besar, kalau ia masuk Islam dan bertaubat, apakah suamiku di ampuni?”
Maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata
“Allah memaafkan semua yang terdahulu jika orang mau bertaubat, masuk Islam Taubat sudah tidak ada lagi dosa”. Maka Istrinya pun menemui Suaminya di pantai. Berkata Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam
“Allah akan mengampuni semua yang Lalu kalau kau mau bertaubat dan masuk Islam”
Wahsyi berkata pada Istrinya: “kamu tahu bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tahu kamu istri saya?” maka berkata Istrinya: “tidak ku sampaikan”
“katakan dulu, mustahil aku diampuni”
Maka Istrinya balik lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ya Rasulullah, apakah betul semua dosa akan di ampuni??? suamiku ketakutan”
Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :
“sudah kusampaikan beberapa waktu yang lalu, Allah memaafkan apa-apa yang terdahulu”
Maka Istrinya berkata: “Ya Rasulullah, suamiku adalah Wahsyi yang telah membunuh pamanmu, merobek dadanya, mengeluarkan jantungnya, mencungkil kedua matanya, dan memotong bibir, hidung dan kedua telinganya”
Berubah wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau terdiam dan tidak menjawab, menunduk, Turunlah ayat :
“Katakan Wahai hamba-hambaku yang telah melampaui batas dalam berbuat dosa, jangan berputus asa dari kasih sayang Allah, Allah mengampuni semua dosa”
Rasul menyampaikannya kepada para Shahabat dan kepada Istrinya dan Istrinya menyampaikan kepada Suaminya datanglah Wahsyi masuk Islam, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “kau wahsyi yang telah membunuh pamanku? Hamzah bin Abdul Muthallib”
“Betul wahai Rasul, aku telah berbuat ini dan itu”
“kumaafkan kesalahanmu, namun satu hal, jangan perlihatkan wajahmu lagi di hadapanku setelah ini”
“Kenapa wahai Rasulullah, bukankah kau sudah memaafkan aku?”
“Aku sudah memaafkanmu, tapi kalau aku lihat wajahmu aku terbayang wajah Hamzah bin Abdul Muthallib yang rusak di hancurkan olehmu saat itu, aku teringat wajah Hamzah, makanya jangan muncul di hadapanku lagi”
Wahsyi kemudian terus kecewa di dalam hatinya sampai munculnya Musailamah Al Kaddzab musuhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata “nah ini tombak yang kugunakan untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muthallib akan kugunakan juga untuk membunuh Musailamah Al Kadzab, barangkali sedikit bisa menebus dari pada kesalahan ku yang lalu”,
Namun kita lihat Sang Maha Lembut Rabbul’alamin berbuat kepada orang yang demikian, Wahsyi, Allah menjawab keputus asaannya dengan kasih sayang Allah yang berkata pada istrinya “mustahil aku di ampuni karena aku sudah berbuat dosa yang sangat besar, membunuh pamannya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam” namun justru Allah memanggilnya untuk kembali kepada cintanya, “jangan putus asa dari kasih sayang Allah” kenalilah Tuhan mu yang Maha Lembut dan Maha Berkasih sayang, tiada yang lebih lembut dari Nya, tiada yang lebih santun dari Nya, Dialah Allah, yang telah mengutus hamba yang paling di Cintai Nya, Yang mempunyai sifat yang sangat lemah lembut Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Shahibul Akhlak Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Shahibul Isro’ Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Shahibul Mi’raj Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Pemimpin kita dan idola kita yang berlemah
lembut dan tiada manusia yang lebih lembut dari Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam: “Rasul shallallahu ‘alaihi
wasallam, sebaik baiknya manusia, budi pekerti dan tubuhnya” dan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam telah disampaikan oleh Allah subhanahu wata’ala: “Sungguh engkau mempunyai akhlak yang agung”(QS Nun 4)
Dan firman Allah swt pula: “Telah datang kepada kalian utusan dari bangsa kalian, berlemah lembut dan sangat peduli atas musibah yang menimpa kalian dan sangat berlemah lembut kepada hamba-hamba Allah yang beriman dialah Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam” (QS Attaubah 128)


 فياأيها الراجون منه شفاعة ، صلوا عليه وسلموا تسليما وياأيها المشتاقون إلی رؤيا جماله ؛ صلوا عليه وسلموا تسليما ويا من يخطب وصاله يقظة ومناما ؛ صلوا عليه وسلموا تسليما