Total Tayangan Halaman

Jumat, 08 November 2013

Sejarah Munculnya Wahaby SESAT dan Wahaby SALAFI

Sejarah Munculnya Wahaby SESAT dan Wahaby SALAFI

Bismillah. Sebelum mengenal siapa sebenarnya Wahabi kali ini, tentunya kita harus bijaksana dalam bersikap, bukan hanya melihat dari satu sisi, lalu mengklaim bahwa ent yang paling benar, sebab ternyata akan ada wahabi sesat dan juga wahabi salafi yang akan kita bahas, baik tentang sejarah munculnya julukan wahabi tersebut, sekaligus bantahan telak terhadap penyesatan terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.


Dan perlu kita ketahui dan tekankan disini bahwa nama: WAHHAB adalah salah satu nama Allah SWT dalam asma ul husna. Jadi bagi ent yang belum tahu asal-sulnya, dan ent yang masih cetek ilmunya, jangan asal menuduh, jangan asal menyebut, atau mengolok nama tersebut sembarangan. Karena secara tidak langsung ent juga mengolok-olok salah satu Asama Allah SWT. na’udzubillah….
Baca artikel sebelumnya: Maksud dan ajaran Wahabi


BAGAIMANAKAH SEJARAH PENAMAAN MEREKA??

(Orang pintar, baca sampai akhir baru menyimpulkan)
(Orang yang dangkal fikiran dan ilmunya, hanya koar-koar, mengumpat lalu kabur tanpa berani membaca ataupun menerima kebenaran)

Marilah kita simak DIALOG ILMIAH yang sangat menarik antara Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwai’ir dengan para masyaikh/dosen-dosen disalah satu Universitas Islam di Maroko

----------------------------------------------------------------
Salah seorang Dosen itu berkata: “Sungguh hati kami sangat mencintai Kerajaan Saudi Arabia, demikian pula dengan jiwa-jiwa dan hati-hati kaum muslimin sangat condong kepadanya,dimana setiap kaum muslimin sangat ingin pergi kesana, bahkan antara kami dengan kalian sangat dekat jaraknya. Namun sayang, kalian berada diatas suatu Madzhab, yang kalau kalian tinggalkan tentu akan lebih baik, yaitu Madzhab Wahabi.”

Kemudian Asy Syaikh dengan tenangnya menjawab: “Sungguh banyak pengetahuan yang keliru yang melekat dalam pikiran manusia, yang mana pengetahuan tersebut bukan diambil dari sumber-sumber yang terpercaya, dan mungkin kalian pun mendapat khabar-khabar yang tidak tepat dalam hal ini.

Baiklah, agar pemahaman kita bersatu, maka saya minta kepada kalian dalam diskusi ini agar mengeluarkan argumen-argumen yang diambil dari sumber-sumber yang terpercaya,dan saya rasa di Universitas ini terdapat Perpustakaan yang menyediakan kitab-kitab sejarah islam terpercaya. Dan juga hendaknya kita semaksimal mungkin untuk menjauhi sifat Fanatisme dan Emosional.”

Dosen itu berkata : “saya setuju denganmu, dan biarkanlah para Masyaikh yang ada dihadapan kita menjadi saksi dan hakim diantara kita.”

Asy Syaikh berkata : “saya terima, Setelah bertawakal kepada Allah, saya persilahkan kepada anda untuk melontarkan masalah sebagai pembuka diskusi kita ini.”

Dosen itu pun berkata :
“Baiklah kita ambil satu contoh, ada sebuah fatwa yang menyatakan bahwa firqoh wahabi adalah Firqoh yang sesat. Disebutkan dalam kitab Al-Mi’yar yang ditulis oleh Al Imam Al-Wansyarisi, beliau menyebutkan bahwa Al-Imam Al-Lakhmi pernah ditanya tentang suatu negeri yang disitu orang-orang Wahabiyyun membangun sebuah masjid, “Bolehkan kita Sholat di Masiid yang dibangun olehorang-orang wahabi itu ??” maka Imam Al-Lakhmi pun menjawab: “Firqoh Wahabiyyah adalah firqoh yang sesat, yang masjidnya wajib untuk dihancurkan, karena mereka telah menyelisihi kepada jalannya kaum mu’minin, dan telah membuat bid’ah yang sesat dan wajib bagi kaum muslimin untuk mengusir mereka dari negeri-negeri kaum muslimin “.

(wajib kita ketahui bahwa Imam Al-Wansyarisi dan Imam Al-Lakhmi adalah ulama ahlusunnah)

Dosen itu berkata lagi : “Saya rasa kita sudah sepakat akan hal ini, bahwa tindakan kalian adalah salah selama ini,”

Kemudian Asy Syaikh menjawab : ”Tunggu dulu..!! kita belum sepakat, lagipula diskusi kita ini baru dimulai, dan perlu anda ketahui bahwasannya sangat banyak fatwa yang seperti ini yang dikeluarkan oleh para ulama sebelum dan sesudah Al-Lakhmi, untuk itu tolong anda sebutkan terlebih dahulu kitab yang menjadi rujukan kalian itu !”

Dosen itu berkata: ”Anda ingin saya membacakannya dari fatwanya saja, atau saya mulai dari sampulnya ??”

Asy Syaikh menjawab: ”Dari sampul luarnya saja.”

Dosen itu kemudian mengambil kitabnya dan membacakannya: ”Namanya adalah Kitab Al-Mi’yar, yang dikarang oleh Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi. Wafat pada tahun 914 H di kota Fas, di Maroko.”

Kemudian Asy Syaikh berkata kepada salah seorang penulis di sebelahnya: “Wahai syaikh, tolong catat baik- baik, bahwa Imam Al-Wansyarisi wafat pada tahun 914 H. Kemudian bisakah anda menghadirkan biografi Imam Al- Lakhmi??”
Dosen itu berkata: “Ya.”

Kemudian dia berdiri menuju salah satu rak perpustakaan, lalu dia membawakan satu juz dari salah satu kitab-kitab yang mengumpulkan biografi ulama. Didalam kitab tersebut terdapat biografi Ali bin Muhammad Al-Lakhmi, seorang Mufti Andalusia dan Afrika Utara.

Kemudian Asy Syaikh berkata : “Kapan beliau wafat?”

Yang membaca kitab menjawab: “Beliau wafat pada tahun 478 H

Asy Syaikh berkata kepada seorang penulis tadi: “Wahai syaikh tolong dicatat tahun wafatnya Syaikh Al-Lakhmi” kemudian ditulis.

Lalu dengan tegasnya Asy Syaikh berkata : “Wahai para masyaikh….!!! Saya ingin bertanya kepada antum semua …!!! Apakah mungkin ada ulama yang memfatwakan tentang kesesatan suatu kelompok yang belum datang (lahir) ??? kecuali kalau dapat wahyu????”

Mereka semua menjawab : “Tentu tidak mungkin, Tolong perjelas lagi maksud anda !”
Asy syaikh berkata lagi : “Bukankah wahabi yang kalian anggap sesat itu adalah dakwahnya yang dibawa dan dibangun oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab????”

Mereka berkata : “Siapa lagi???”

Asy Syaikh berkata: “Coba tolong perhatikan..!!! Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H, Nah, ketika Al-Imam Al-Lakhmi berfatwa seperi itu, jauh RATUSAN TAHUN lamanya sebelum syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir..bahkan sampai 22 generasi ke atas dari beliau sama belum ada yang lahir..apalagi berdakwah..
KAIF ??? GIMANA INI???” (Merekapun terdiam beberapa saat..)

Kemudian mereka berkata: “Lalu sebenarnya siapa yang dimaksud Wahabi oleh Imam Al-Lakhmi tersebut ?? mohon dijelaskan dengan dalil yang memuaskan, kami ingin mengetahui yang sebenarnya !”

Asy Syaikh pun menjawab dengan tenang : “Apakah anda memiliki kitab Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya, yang ditulis oleh Al-Faradbil, seorang kebangsaan Francis ?”

Dosen itu berkata: “Ya ini ada”

Asy Syaikh pun berkata : “Coba tolong buka di huruf “wau” .. maka dibukalah huruf tersebut dan munculah sebuah judul yang tertulis “Wahabiyyah“

Kemudian Asy Syaikh menyuruh kepada Dosen itu untuk membacakan tentang biografi firqoh wahabiyyah itu.

Dosen itu pun membacakannya:
”Wahabi atau Wahabiyyah adalah sebuah sekte KHOWARIJ ABADHIYYAH yang dicetuskan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al-Khoriji Al-Abadhi, Orang ini telah banyak menghapus Syari’at Islam, dia menghapus kewajiban menunaikan ibadah haji dan telah terjadi peperangan antara dia dengan beberapa orang yang menentangnya. Dia wafat pada tahun 197 H di kota Thorat di Afrika Utara. Penulis mengatakan bahwa firqoh ini dinamai dengan nama pendirinya, dikarenakan memunculkan banyak perubahan dan dan keyakinan dalam madzhabnya. Mereka sangat membenci Ahlussunnah.

Setelah Dosen itu membacakan kitabnya Asy Syaikh berkata :
“Inilah Wahabi yang dimaksud oleh imam Al-Lakhmi, inilah wahabi yang telah memecah belah kaum muslimin dan merekalah yang difatwakan oleh para ulama Andalusia dan Afrika Utara sebagaimana yang telah kalian dapati sendiri dari kitab-kitab yang kalian miliki. Adapun Dakwah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang didukung oleh Al-Imam Muhammad bin Su’ud-Rahimuhumallah-, maka dia bertentangan dengan amalan dakwah Khowarij, karena dakwah beliau ini tegak diatas kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, dan beliau menjauhkan semua yang bertentangan dengan keduanya, mereka mendakwahkah tauhid, melarang berbuat syirik, mengajak umat kepada Sunnah dan menjauhinya kepada bid ’ah, dan ini merupakan Manhaj Dakwahnya para Nabi dan Rasul.
----------------------------------------------------------------------------

Syubhat yang tersebar dinegeri-negeri Islam ini dipropagandakan oleh musuh- musuh islam dan kaum muslimin dari kalangan penjajah dan selain mereka agar terjadi perpecahan dalam barisan kaum muslimin.


KESIMPULANNYA:

A. -------------Dari ulasan diatas, sejarah munculnya “Wahhaby” tak lepas dari dua sosok fenomenal yang mungkin sebagian kita belum mengenal secara global, siapakah kedua tokoh dibalik julukan “wahabi” tersebut?

1. Abdul wahhab bin abdirrahman bin rustum al - khoriji al - abadhi.
ADALAH : Orang ini telah banyak menghapus Syari’at Islam, dia menghapus kewajiban menunaikan ibadah haji dan telah terjadi peperangan antara dia dengan beberapa orang yang menentangnya. Dia wafat pada tahun 197 H di kota Thorat di Afrika Utara. Penulis mengatakan bahwa firqoh ini dinamai dengan nama pendirinya, dikarenakan memunculkan banyak perubahan dan dan keyakinan dalam madzhabnya. Mereka sangat membenci Ahlussunnah.
dan dikatakan bahwa: “Inilah Wahabi yang dimaksud oleh imam Al-Lakhmi, inilah wahabi yang telah memecah belah kaum muslimin dan merekalah yang difatwakan oleh para ulama Andalusia dan Afrika Utara sebagaimana yang telah kalian dapati sendiri dari kitab-kitab yang kalian miliki.

2. Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab.
ADALAH : Syaikh yang didukung oleh Al-Imam Muhammad bin Su’ud-Rahimuhumallah-, maka dia bertentangan dengan amalan dakwah Khowarij, karena dakwah beliau ini tegak diatas kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, dan beliau menjauhkan semua yang bertentangan dengan keduanya, mereka mendakwahkah tauhid, melarang berbuat syirik, mengajak umat kepada Sunnah dan menjauhinya kepada bid ’ah, dan ini merupakan Manhaj Dakwahnya para Nabi dan Rasul. 
Baca juga: Bantahan kesesatan wahabi (yang dinisbahkan oleh syaikh Muhammad bin Abd Wahab)

B.-------------- Wahabi yang sesat, benar dan memang ada, tetapi ini seharusnya dinisbahkan kepada Abdul Wahhab Bin Abdirrahman Bin Rustum Al - Khoriji Al - Abadhi. Dan ini jauh RATUSAN TAHUN lamanya sebelum syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir.. Bahkan sampai 22 generasi ke atas dari beliau sebelum lahir.. apalagi berdakwah..

C. -------------- Wahabi yang saat ini dinisbahkan kepada Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab, sekaligus kerajaan Arab Saudi hingga saat ini sebagai firqoh yang sesat, maka ini adalah kedustaan yang nyata, dan orang-orang yang menuduh sesat tersebut adalah orang-orang yang telah termakan hasut dan dangkal yang hanya sekedar menuduh tanpa landasan dalil yang nyata.

Sabtu, 26 Oktober 2013

ARMAGEDDON (MENURUT KESAKSIAN HADITS DAN KITAB-KITAB SUCI)


ARMAGEDDON (MENURUT KESAKSIAN HADITS DAN KITAB-KITAB SUCI)

Apakah Armageddon itu? Benarkah dia hanya sebatas istilah? Kapan dia akan terjadi…?

Armageddon adalah nama sebuah gunung di Palestina atau Israel. Arti Armageddon sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu Ar berarti Gunung (Har dalam bahasa Ibrani atau Hebrew) dan Mageddon (Magiddo) adalah nama kota kuno di wilayah Israel sebelah Utara.
Kota Magiddo terletak di pegunungan Samaria tempat gunung ini membentang dari Magiddo di Utara sampai ke Hebron di Selatan.
Istilah Armageddon berasal dasri bahasa Yunani dan di kalangan kaum muslimin istilah Armageddon sama dengan Al Majidun “kemuliaan”, yaitu Perang Kemuliaan. Hal ini ditemukan dalam beberapa manuskrip yang tersimpan dalam perpustakaan-perpustakaan Islam di Timur Tengah.
Di dunia Barat, Armageddon telah menjadi diskursus yang cukup urgen hingga sekarang, baik kalangan Kristen maupun Yahudi, dari rakyat biasa sampai Presiden. Sebagian mereka menganggap bahwa Armageddon adalah peristiwa jatuhnya meteor ke Bumi, padahal itu adalah pemahaman yang salah. Bahkan sebuah film pernah dibuat dengan judul Armageddon yang mengisahkan tentang bongkahan meteor sebesar gunung yang bergerak cepat menuju Bumi, maka dikirimlah utusan atau “Mesias” berupa pesawat luar angkasa yang akan menghancurkan meteor tersebut sehingga tidak jadi ke atmosfir Bumi.Semua itu sangat jauh dari apa yang dimaksud dengan Armageddon itu sendiri. Peristiwa jatuhnya meteor ke Bumi hanyalah salah satu episode dalam Armageddon. Lantas apa hakikat sebenarnya tentang Armageddon?
Sebagai jawaban singkat, Armageddon adalah peristiwa besar di akhir zaman yaitu perang dunia terbesar di akhir zaman yang dimulai dari Magiddon sebuah kota di Israel di pegunungan Samaria.
Nabi Muhammad SAW menyebut Perang Akhir Zaman ini sebagai Al Malhamah Al Kubro, suatu huru-hara besar yang belum pernah ada tandingannya, yang merupakan arena penampakan kuasa Allah untuk membungkus kesombongan orang kafir.
Mereka yang sombong atau merasa bangga dengan kecanggihan senjata, bangga dengan kekuatan tentara, kesemuanya itu akan tidak ada artinya dalam Armageddon atau Al Malhamah Al Kubro. Segala senjata dan banyaknya tentara tidak berarti di medan Armageddon. Armageddon adalah arena penampakan qudratullah, kuasa Allah.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Tidak akan datang hari kiamat sehingga kaum muslimim memerangi kaum Yahudi dan membunuh mereka. Sehingga bersembunyilah orang-orang Yahudi di belakang batu atau kayu, kemudian batu atau kayu itu berkata, ‘Wahai orang muslim, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakang saya, kemarilah dan bunuhlah dia!’ Kecuali pohon Gharqad (yang tidak berbuat demikian) karena ia termasuk pohon Yahudi.”
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Kalian akan diperangi oleh bangsa Yahudi. Lalu, kalian diberi kemenangan atas mereka, sampai-sampai batu pun akan berbicara, ‘Hai muslim, ini seorang Yahudi di balikku, bunuhlah ia!”
Dua hadist di atas merupakan gambaran tentang episode akhir dari Armageddon. Armageddon yang merupakan peperangan di akhir zaman akan menggilas seluruh kekuatan Yahudi dan negara Israel serta sekutu-sekutunya di seluruh belahan dunia. Betapa hebatnya pertempuran itu, sampai-sampai batu dan kayu ikut berbicara menunjukkan tempat persembunyian Yahudi. Wallahu’alam!
Kitab mereka sendiri juga mengatakan hal tersebut. Bibel pasal Yehezkiel (7:15) berjudul Kesudahan Yerusalem menyebutkan, “Pedang ada di luar kota, sampar dan kelaparan ada di dalam. Barang siapa (Yahudi) yang di luar kota akan mati karena pedang, dan berang siapa (Yahudi) yang ada di dalam kota akan binasa oleh kelaparan dan sampar.”
Hal ini dipertegas dalam Bibel Kitab Yehezkiel pasal 6 ayat 11-14: “Beginilah firman Tuhan Allah, ‘Bertepuklah dan entakkanlah kakimu ke tanah dan serukanlah, ‘Awas!’ Oleh sebab segala perbuatan kaum Israel yang keji dan jahat, mereka akan rebah mati karena pedang, kelaparan, dan penyakit sampar. Yang jauh akan mati karena sampar, yang dekat akan mati karena kelaparan. Demikianlah Aku akan melampiaskan amarah-Ku kepada mereka. Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan mereka dan tanahnya, dimana saja mereka diam akan Ku buat menjadi musnah dan sunyi sepi mulai dari pedang gurun sampai Ribla’.”
Peperangan Armageddon ini mempunyai rentang waktu yang lama. Sehingga, menyeret semua negara ke dalam dua poros, yaitu poros kaum kafir yang dipimpin Dajjal dan poros kaum muslimim yang dipimpin oleh Al-Mahdi. Di tengah-tengah berkecamuknya perang ini, turunlah pertolongan Allah kepada kaum muslimin yaitu diturunkannya Isa Almasih Putra Maryam Perawan Suci.
Isa akan turun di menara putih di Timur Damaskus ketika menjelang fajar. Kemudian Isa masuk ke markas kaum muslimin dan ikut dalam barisan shalat Subuh. Setelah itu ia bersama Al-Mahdi akan memimpin kaum muslim menyerbu seluruh markas kaum kafir, bahkan berhasil membunuh Dajjal dan seluruh orang kafir.

Tempat Berlangsungnya Armageddon
Dari berbagai sumber atau literatur, terdapat beberapa tanda sebagai isyarat dekatnya Armageddon.
1. Mengumpulnya Bani Israel ke Tanah Palestina.
Mengumpulnya kembali Bani Israel (Yahudi) ke Palestina untuk yang kedua kali merupakan Janji Akhir Allah kepada Bani Israel. Allah berkehendak mengumpulkan seluruh keturunan Yahudi/Israel ke tanah yang telah dijanjikan kepada nenek moyangnya, untuk kemudian diazab dengan azab yang keras.
Firman Allah: “Dan kami berfirman setelah itu kepada Bani Israel, ‘Berdiamlah kalian di Bumi ini dan apabila datang Wa’dul Akhiroh ‘Janji Akhir’, niscaya kami akan mendatangkan kalian dalam keadaan bercampur baur.” (Al-Israa : 104).
Janji Allah untuk mengembalikan Bani Israel ke Yerusalem (Baitul Maqdis) berlangsung dua kali. Pertama, yaitu pada masa Nabi Musa AS. Dengan izin Allah, Nabi Musa menuntun Bani Israel untuk keluar dari Mesir, membebaskan Bani Israel dari cengkeraman Fir’aun. Tapi setelah di Baitul Maqdis, mereka melakukan kedurhakaan lagi. Karena kedurhakaannya itu, maka Bani Israel diazab Allah. Allah mengirimkan Raja Babilonia, yaitu Nebukadnezar untuk menaklukkan Yerusalem. Sehingga, sebagian orang Yahudi/Israel dibunuh dengan pedang dan sebagian lainnya dibawa sebagai budak ke Babilonia.
Kedua, mengumpulnya Bani Israel untuk yang kedua kali (janji akhir) terjadi mulai tahun 1948, yaitu sejak kaum Yahudi memproklamasikan berdirinya negara Israel. Dari sinilah eksodus besar-besaran keturunan Yahudi/Israel dari Amerika, Eropa, dan Uni Sovyet untuk kembali ke Baitul Maqdis. Syarat untuk dapat diterima menjadi warga negara Israel adalah harus bisa menunjukkan 4 keterunanannya ke atas dari garis ibu adalah Yahudi murni.
Dalam undang-undang Kembali ke Israel (5710 tahun 1950) disebutkan: “Dianggap sebagai Yahudi adalah seorang individu yang dilahirkan dari seorang ibu Yahudi.” Jadi yang menetap di negara Israel saat ini adalah keturunan Yahudi Murni.
Saat ini proses kembalinya orang-orang Yahudi ke negara Israel sedang berlangsung terus. Hal ini menunjukkan sudah dekatnya azab Allah kepada Bani Israel, yang berarti Armageddon sudah diambang pintu. Sebuah takdir bagi kehancuran Ghetto Yahudi Israel yang tidak bisa dihindari.

2. Memuncaknya Kedurhakaan Israel
Salah satu tanda bahwa Armageddon sudah dekat adalah ditandai dengan memuncaknya kedurhakaan Israel. Bibel Kitab Yesaya (33 : 7-9) menjelaskan tentang pimpinan Israel yang bernama Ariel yang kejam, yang selalu melanggar perjanjian demi perjanjian, yang tidak menghiraukan kecaman manusia, “Lihat orang-orang Ariel menjerit di jalan, utusan-utusan yang mencari damai menangis dengan pedih. Jalan-jalan raya menjadi sunyi dan seorang pun tiada lagi yang melintas di jalan. Perjanjian sudah diingkari, saksi-saksi ditolak, dan manusia tidak dihiraukan. Negeri berkabung dan merana; Libanon tersipu-sipu dan mati rebah; Saron sudah seperti padang belantara, Basn dan Karmel meluruh daun.”
Nama Ariel yang terdapat dalam teks di atas kemungkinan bisa ditafsirkan sebagai Ariel Saron, pimpinan Israel saat ini. Hal ini sangat sesuai dengan sepak terjang pimpinan Israel yang bernama Ariel Saron. Dia sangat kejam, tidak mematuhi perjanjian, bahkan selalu mengingkari. Para saksi yang tidak membela Israel akan diboikot atau ditolak. Dia tidak menghiraukan teguran orang atau bangsa lain. Sehingga pada akhirnya, Ariel akan dikalahkan.

3. Munculnya Gerakan Intifadah
Gerakan Intifadah adalah gerakan perlawanan bangsa Palestina kepada Israel dengan cara melakukan aksi lempar batu. Munculnya intifadah merupakan salah satu tanda dekatnya Armageddon. Bibel telah menyebutkan: “Sebab beginilah Firman Tuhan Allah, ‘Biarlah bangkit sekumpulan orang melawan mereka (Israel) dan biarkanlah mereka menjadi kengerian dan rampasan. Kumpulan orang ini akan melontari mereka dengan batu dan memancung mereka dengan pedangnya, membunuh anak-anak laki-laki dan anak perempuan mereka dan membakar habis rumah-rumah mereka.’ ” (Yehezkiel pasal 23 ayat 46-47).
***

Sebagian tanda-tanda tersebut ada yang sudah terwujud dan ada yang belum. Tanda-tanda dekatnya Armageddon yang telah dan sedang terwujud adalah kembalinya Bani Israel ke Tanah Palestina. Memuncaknya kedurhakaan Israel dengan Ariel sebagai pemimpin, dan munculnya gerakan Intifadah. Sedangkan tanda-tanda dekatnya Armageddon yang belum terwujud adalah munculnya Imam Mahdi (Al-Mahdi) untuk menghentikan kedurhakaan Israel. Kemunculan Al-Mahdi didahului oleh fenomena hancurnya Irak.
Tentang kebenaran dari semua ini tentu saja hanya Allah SWT Yang Maha Tahu dan Maha Berkehendak. Kita sebagai manusia hanya bisa melakukan ikhtiar sebatas kemampuan yang telah digariskan olehNya.

Wallahu a'lam bi showab....''

Minggu, 20 Oktober 2013

Dialog Ilmiah Syeikh Sa’id Ramadhan Al-Buthi dan Syeikh Al-Albani



Dialog Ilmiah Syeikh Sa’id Ramadhan Al-Buthi dan Syeikh Al-Albani


Ada sebuah perdebatan yang menarik tentang ijtihad dan taqlid, antara Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di Syria, bersama Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang tokoh Wahhabi dari Yordania.

 Dialog Ilmiah Syeikh Sa’id Ramadhan Al-Buthi dan Syeikh Al-Albani

Ada sebuah perdebatan yang menarik tentang ijtihad dan taqlid, antara Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di Syria, bersama Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang tokoh Wahhabi dari Yordania.
Syaikh al-Buthi bertanya: “Bagaimana cara Anda memahami hukum-hukum Allah, apakah Anda mengambilnya secara langsung dari al-Qur’an dan Sunnah, atau melalui hasil ijtihad para imam-imam mujtahid?”
Al-Albani menjawab: “Aku membandingkan antara pendapat semua imam mujtahid serta dalil-dalil mereka lalu aku ambil yang paling dekat terhadap al-Qur’an dan Sunnah.”
Syaikh al-Buthi bertanya: “Seandainya Anda punya uang 5000 Lira. Uang itu Anda simpan selama enam bulan. Kemudian uang itu Anda belikan barang untuk diperdagangkan, maka sejak kapan barang itu Anda keluarkan zakatnya. Apakah setelah enam bulan berikutnya, atau menunggu setahun lagi?”
Al-Albani menjawab: “Maksud pertanyaannya, kamu menetapkan bahwa harta dagang itu ada zakatnya?”
Syaikh al-Buthi berkata: “Saya hanya bertanya. Yang saya inginkan, Anda menjawab dengan cara Anda sendiri. Di sini kami sediakan kitab-kitab tafsir, hadits dan fiqih, silahkan Anda telaah.”
Al-Albani menjawab: “Hai saudaraku, ini masalah agama. Bukan persoalan mudah yang bisa dijawab dengan seenaknya. Kami masih perlu mengkaji dan meneliti. Kami datang ke sini untuk membahas masalah lain”.
Mendengar jawaban tersebut, Syaikh al-Buthi beralih pada pertanyaan lain: “Baik kalau memang begitu. Sekarang saya bertanya, apakah setiap Muslim harus atau wajib membandingkan dan meneliti dalil-dalil para imam mujtahid, kemudian mengambil pendapat yang paling sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah?”
Al-Albani menjawab: “Ya.”
Syaikh al-Buthi bertanya: “Maksud jawaban Anda, semua orang memiliki kemampuan berijtihad seperti yang dimiliki oleh para imam madzhab? Bahkan kemampuan semua orang lebih sempurna dan melebihi kemampuan ijtihad para imam madzhab. Karena secara logika, seseorang yang mampu menghakimi pendapat-pendapat para imam madzhab dengan barometer al-Qur’an dan Sunnah, jelas ia lebih alim dari mereka.”
Al-Albani menjawab: “Sebenarnya manusia itu terbagi menjadi tiga, yaitu muqallid (orang yang taklid), muttabi’ (orang yang mengikuti) dan mujtahid. Orang yang mampu membandingkan madzhab-madzhab yang ada dan memilih yang lebih dekat pada al-Qur’an adalah muttabi’. Jadi muttabi’ itu derajat tengah, antara taklid dan ijtihad.”
Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa kewajiban muqallid?”
Al-Albani menjawab: “Ia wajib mengikuti para mujtahid yang bisa diikutinya.”
Syaikh al-Buthi bertanya: “Apakah ia berdosa kalau seumpama mengikuti seorang mujtahid saja dan tidak pernah berpindah ke mujtahid lain?”
Al-Albani menjawab: “Ya, ia berdosa dan haram hukumnya.”
Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa dalil yang mengharamkannya?”
Al-Albani menjawab: “Dalilnya, ia mewajibkan pada dirinya, sesuatu yang tidak diwajibkan Allah padanya.”
Syaikh al-Buthi bertanya: “Dalam membaca al-Qur’an, Anda mengikuti qira’ahnya siapa di antara qira’ah yang tujuh?”
Al-Albani menjawab: “Qira’ah Hafsh.”
Al-Buthi bertanya: “Apakah Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja? Atau setiap hari, Anda mengikuti qira’ah yang berbeda-beda?”
Al-Albani menjawab: “Tidak. Saya hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja.”
Syaikh al-Buthi bertanya: “Mengapa Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja, padahal Allah subhanahu wata’ala tidak mewajibkan Anda mengikuti qira’ah Hafsh. Kewajiban Anda justru membaca al-Qur’an sesuai riwayat yang dating dari Nabi Saw. secara mutawatir.”
Al-Albani menjawab: “Saya tidak sempat mempelajari qira’ah-qira’ah yang lain. Saya kesulitan membaca al-Qur’an dengan selain qira’ah Hafsh.”
Syaikh al-Buthi berkata: “Orang yang mempelajari fiqih madzhab asy-Syafi’i, juga tidak sempat mempelajari madzhab-madzhab yang lain. Ia juga tidak mudah memahami hukum-hukum agamanya kecuali mempelajari fiqihnya Imam asy-Syafi’i. Apabila Anda mengharuskannya mengetahui semua ijtihad para imam, maka Anda sendiri harus pula mempelajari semua qira’ah, sehingga Anda membaca al-Qur’an dengan semua qira’ah itu. Kalau Anda beralasan tidak mampu melakukannya, maka Anda harus menerima alasan ketidakmampuan muqallid dalam masalah ini. Bagaimanapun, kami sekarang bertanya kepada Anda, dari mana Anda berpendapat bahwa seorang muqallid harus berpindah-pindah dari satu madzhab ke madzhab lain, padahal Allah tidak mewajibkannya. Maksudnya sebagaimana ia tidak wajib menetap pada satu madzhab saja, ia juga tidak wajib berpindah-pindah terus dari satu madzhab ke madzhab lain?”
Al-Albani menjawab: “Sebenarnya yang diharamkan bagi muqallid itu menetapi satu madzhab dengan keyakinan bahwa Allah memerintahkan demikian.”
Syaikh al-Buthi berkata: “Jawaban Anda ini persoalan lain. Dan memang benar demikian. Akan tetapi, pertanyaan saya, apakah seorang muqallid itu berdosa jika menetapi satu mujtahid saja, padahal ia tahu bahwa Allah tidak mewajibkan demikian?”
Al-Albani menjawab: “Tidak berdosa.”
Syaikh al-Buthi berkata: “Tetapi isi buku yang Anda ajarkan, berbeda dengan yang Anda katakan. Dalam buku tersebut disebutkan, menetapi satu madzhab saja itu hukumnya haram. Bahkan dalam bagian lain buku tersebut, orang yang menetapi satu madzhab saja itu dihukumi kafir.”
Menjawab pertanyaan tersebut, al-Albani kebingungan menjawabnya.
Demikianlah dialog panjang antara Syaikh al-Buthi dengan al-Albani, yang didokumentasikan dalam kitab beliau al-Lamadzhabiyyah Akhthar Bid’ah Tuhaddid asy-Syari’at al-Islamiyyah. Dialog tersebut menggambarkan, bahwa kaum Wahhabi melarang umat Islam mengikuti madzhab tertentu dalam bidang fiqih. Tetapi ajakan tersebut, sebenarnya upaya licik mereka agar umat Islam mengikuti madzhab yang mereka buat sendiri. Tentu saja mengikuti madzhab para ulama salaf, lebih menenteramkan bagi kaum Muslimin. Keilmuan, ketulusan dan keshalehan ulama salaf jelas diyakini melebihi orang-orang sesudah mereka.

Wallahu a'lam bi showab....

Nasihat buat Pengikut Syaikh Nasiruddin al-Albani

Nasihat buat Pengikut Syaikh Nasiruddin al-Albani

Assalamu’alaikum wr. wb.
Minta tolong pencerahannya pak Ustadz.
1. Seorang teman saya sangat berhati-hati dalam beragama dan menganggap semua yang tidak sependapat dengan kelompoknya adalah sesat atau bidah bahkan dianggap bermaksiat terhadap Allah karena beribadah tidak dengan cara Rasulullah, dan hal demikian menurut mereka bukan sekedar khilafiyah. Yasinan, bermaafan menjelang Ramadhan, qunut dan sebagainya adalah bidah dan sesat masuk neraka. Bagaimana sebenarnya batasan bidah yang diharamkan?
2. “Sikap tidak bisa menerima pandangan orang lain yang tidak sama dengan diri sendiri sebenarnya justru ciri khas orang awam. Di mana akses mereka terhadap ilmu-ilmu syariah tersumbat. ” Pak Ustadz Ahmad Syarwat pernah menuliskan demikian dalam jawaban pertanyaan mengenai shalat witir. Menurut seorang teman saya berarti pak Ustadz secara tidak langsung dia menyebutkan Syaikh Nasiruddin Al-Albani adalah orang awam. Jadi sebenarnya siapa Syaikh Nasiruddin Al-Albani itu dan bagaimana kapasitasnya sebagai seorang Ulama Islam? Serta bagaimana pula pandangan Syaikh itu terhadap khilafiyah?
3. Kalau kita dianggap sesat orang lain, apa yang seharusnya kita lakukan? Apakah boleh kita jadi makmum/imam bagi orang yang demikian (dan sebaliknya)? Mengingat mereka menganggap kita sesat.
4. Jika kita bertemu dengan muslim lain yang tidak sependapat dengan kita, misalnya dalam hal qunut, bagaimana kita berjamaah? Misalnya dalam hal diundang Yasinan, dan sebagainya? Bagaimana sikap kita? Menerima ataukah menolak?
Terima kasih pak ustadz, JazakAllah khoir
Mohammad Agus Sulistyono
agusme

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

1. Bahwa seseorang berpendapat suatu tindakan itu bid’ah atau haram, tentu saja merupakan hak tiap orang. Akan tetapi yang tidak boleh adalah menunjuk hidung tiap orang dan menyapanya dengan sebutan, “Hai Ahli Bid’ah”, atau “Hai calon penghuni neraka.” Nauzu billahi min zalik
Ketika Imam Malik rahimahullah mengatakan bahwa qunut pada shalat shubuh itu bid’ah, beliau tidak pernah mengatakan bahwa Imam As-syafi’i muridnya yang paling cerdas dan berhasil membangun mazhab sendiri sebagai ahli bid’ah atau calon penghuni neraka, lantaran berpendapat bahwa qunut shubuh itu sunnah.
Demikian juga ketika Imam As-Syafi’i menjadi imam shalat shubuh di masjid Madinah, tempat di mana Imam Malik gurunya itu pernah mengajar fiqih, beliau meninggalkan qunut shubuh. Padahal pendapat beliau menyebutkan bahwa qunut itu sunnah, bila ditinggalkan dengan sengaja harus melakukan sujud sahwi. Namun beliau tetap sangat menghormati almarhum gurunya.
Kedua ulama guru dan murid itu alih-alih saling mencaci, justru mereka saling bertukar pujian. Dan bukan sekedar basa-basi, melainkan pujian setulus hati dan sejujurnya. Berbeda dengan ulama zaman sekarang, yang ketika memuji, boleh jadi hatinya masih panas.
Maka bagi seorang alim, berpendapat yang berbeda dengan saudaranya sangat wajar dan manusiawi. Tapi kalau kemana-mana selalu melontarkan cacian, makian, tuduhan, ejekan serta secara terus menerus menyakiti hati dan perasaan saudaranya dengan julukan-julukan kurang ajar, padahal yang dibicarakannya itu masih seputar masalah khilafiyah, sungguh bukan sikap seorang ahli ilmu.
2. Syeikh Nasiruddin Al-Albani tidak senaif yang dibilang teman anda. Beliau seorang ulama besar yang sudah pasti paham bahwa di dalam masalah syariah, pasti banyak perbedaan pendapat. Beliau sangat bisa menerima perbedaan pendapat dengan ulama lain.
Dan tentu saja tidak benar bila kami menuduh bahwa Syeikh termasuk yang kami katakan sebagai orang awam yang tidak punya akses kepada ilmu syariah.
Tentu saja yang kami maksud bukan Syeikh Al-Albani, melainkan segelintir orang yang ke mana-mana membawa nama beliau, tetapi melakukan tindakan tidak terpuji. Seandainya Syeikh masih hidup dan mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi, pastilah mereka akan ditegur dengan keras.
Yang tidak bisa menerima perbedaan pendapat itu memang orang-orang awam, yang barangkali hanya kenal satu ulama saja. Misalnya mereka hanya kenal Syeikh Nasiruddin Al-Albani saja. Sayangnya kemudian pendapat beliau banyak dieksploitir sedemikian rupa, sehingga seolah-olah Al-Albani jadi tokoh kontroversial.
Padahal di dunia ini yang namanya ulama bukan hanya beliau seorang saja. Dan beliau yang mulia Syeikh Al-Albani sendiri pasti mengakui bahwa dirinya bukan satu-satunya ulama. Beliau tidak pernah mengatakan bahwa siapapun yang tidak sesuai dengan pendapat dirinya, pasti sesat dan pasti masuk neraka. Beliau juga tidak pernah mengatakan bahwa yang benar hanya dirinya sendiri, sementara semua pendapat lain pasti salah dan sesat. Sungguh Syeikh Al-Albani terlepas dari semua hal yang dituduhkan.
Bahwa seorang Al-Albani punya pendapat yang berbeda dengan banyak ulama lain, itu karena beliau yakin bahwa hujjah beliau kuat. Dan sebagai seorang ahli hadits, tidak seorang pun yang meragukan kemampuan beliau. Namun dengan semua kemampuannya itu, beliau sama sekali belum pernah merasa dirinya paling benar. Bahkan beliau terlepas dari sikap-sikap jumud dari kalangan awam yang menisbahkan diri mereka sebagai murid beliau, namun tidak mengikuti akhlaqnya.
Al-Albani tidak pernah mencaci maki seorang ulama. Beliau tidak pernah mengkafirkan atau menuduh siapa pun sebagai ahli bid’ah. Meski beliau sangat anti dan memerangi bid’ah, namun biar bagaimana pun beliau seorang ulama yang paham etika dan estetika. Beliau tidak pernah menyebut nama seseorang dari kalangan ulama lain yang tidak sepaham dengan beliau sebagai kafir, atau ahli bid’ah, atau calon penghuni neraka atau sebutan-sebutan lain yang tidak etis.
Tidak sebagaimana sekelompok kecil orang awam yang berani memakai nama beliau sebagai rujukan atau ulama ikutan, tetapi berakhlaq rendah serta bermasalah dengan jiwanya. Dalam logika kelompok kecil ini, yang penting semua orang harus salah dulu, lalu disikat dengan berbagai macam dalil. Dan kemudian mereka menggunakan nama Al-Albani sebagai tumbal.
Sementara Syaikh Al-Albani jauh dari sikap dan tindakan gegabah seperti itu. Sebenarnya nama baik beliau justru direndahkan dan dihinakan oleh sekelompok kecil orang yang tidak bertanggung-jawab. Mereka membawa-bawa nama Syeikh seolah tindakan salah mereka itu adalah perintah dan ajaran dari beliau.
Semoga Allah memaafkan kesalahan saudara-saudara kita itu dan menyadaran mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Semoga Allah SWT meluaskan dada mereka dan mau menerima realita dalam berjamaah bersama dengan sesama umat Muhammad SAW. Semua yang mereka tuduhan kepada Syaikh semoga dihilangkan.
3. Ketika ada seseorang menuduh diri kita sebagai sesat, hanya lantaran kita punya pemahaman fiqih yang tidak sama dengan dirinya, maka ketahuilah bahwa kita sedang berhadapan dengan orang jahil. Dalam hal ini, mungkin firman AllahSWT berikut bisa kita sima baik-baik.
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata keselamatan. (QS Al-Furqan: 63)
Kita tetap sah bermakmum di belakang mereka, selama kita yakin bahwa shalat mereka sah. Sedangkan kalau mereka tidak mau bermakmum kepada kita, tidak usah dipikirkan. Nothing to loose, kan?
4. Seandainya anda berkeyakinan bahwa qunut itu bid’ah, maka anda tetap sah shalat di belakang imam yang qunut. Dan demikian juga sebaliknya.
Sebab sekali lagi, kalau pun qunut itu dikatakan bid’ah, sebenarnya tidak ada satu ayat Quran yang menyebutkannya dan juga tidak ada hadits shahih yang secara eksplisit menyebutkannya. Kebid’ahan qunut hanya lahir dari hasil sebuah ijtihad manusia belaka, bukan kalamullah dan bukan sabda rasulullah SAW. Jadi bisa benar dan bisa salah.
Demikian juga dengan kebid’ahan Yasinan, kami yakin mereka yang berpendapat demikian, tidak pernah bisa menyebutkan satu ayat atau satu hadits pun yang secara eksplisit nabi SAW melarang untuk melakukannya. Kalau pun dikatakan bahwa Yasinan itu bid’ah, ketahuilah bahwa hal itu hasil dari sebuah ijtihad. Bisa benar dan bisa salah.
Dan tidak ada seorang pun yang berhak untuk mengklaim bahwa dirinya selalu dan senantiasa benar, lalu semua orang pasti semua salah, bid’ah dan neraka. Kecuali hanya satu orang yang berhak mengklaim demikian, yaitu Rasulullah SAW seorang.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Murid-murid senior Albani buka mulut dan mengungkap pribadi Albani yang sebenarnya

Murid-murid senior Albani buka mulut dan mengungkap pribadi Albani yang sebenarnya


Ini adalah secuil dari kisah lautan hidup syaikh Albani, saya hadiahkan teruntuk mereka para pecinta syaikh Albani..

Pertikaian syaikh Mahmud Mahdi al-Istanbuuli dengan syaikh Albani.

Syaikh Mahmud Mahdi ini menjadi murid dan selalu bersama gurunya yaitu syaikh Albani selama empat puluh tahun. Ia dikenal seorang ahli hadits di kalangan salafi dan diakui oleh Albani sehingga dipercaya untuk mengajar anak-anaknya.

Tapi kemudian karena ada problem yang terjadi antara keduanya yaitu dalam masalah harta, maka saat itu syaikh Mahmud berlepas diri dari gurunya tersebut dan berbalik membencinya.

Mantan murid senior syaikh Albani akhirnya buka mulut dan mengungkapkan siapa Albani sebenarnya.  Simak pengakuan dan penuturan ustadz Mahmud Mahdi al-Istanbuuli dan Zuhair asy-Syaawis :

Beliau menulis sebuah risalah yang ditujukan khusus untuk gurunya berjudul : “ Kitaabun Maftuuh ila asy-Syaikh Nashir Albani min Mahmud Mahdi al-Istanbuuli “.

Di antara isi kitab tersbut adalah :

“ Sesungguhnya saya sudah mengetahui bahwa anda (Albani) menyimpan dendam padaku sejak saat Madrasah itu menolak putra-putramu dikarenakan penolakan biaya pada mereka, sesorang telah memberitahukan padaku hal itu, maka aku maklumi dirimu dan aku katakan padamu ; bahwsanya para pengajar wanita telah bersekutu dengan sebab peraturan-peraturan yang terakhir lalu engkau menggelengkan kepalamu karena marah dan semua tujuanmu adalah memakan hak-hak mereka, sebagaimana engkau telah memakan hak-hakku bertahun-tahun dengan mengajar putrimu tanpa terlontar rasa syukur sepatah kata pun darimu. Seandainya aku lakukan pada seekor kucing dari apa yang telah aku lakukan itu, maka niscaya kucing pun akan berterima kasih dengan caranya sendiri yang telah Allah ciptakan untuknya..”
(Kitaabun Maftuuh : 3, Syaikh Mahmud Mahdi)

Pada halaman berikutnya syaikh Mahmud berkata :



“ Kemudian dia (Albani) mencuri harta salafiyun (orang-orang yang mengaku pengikut salaf) yang diletekkan secara teledor bukan pada tempatnya dan tidak dikembalikan pada jama’ah sebagaimana semestinya amanat dan menyerhakan hukumnya pada ketentuan syare’at. Engkau (Albani) telah melakukan hal itu yang telah aku sebutkan dan akan aku sebutkan perihal lainnya lagi yang telah engkau lakukan.. “
(Kitaabun Maftuuh : 5, Syaikh Mahmud Mahdi)

Pada halaman berikutnya syaikh Mahmud berkata :





“ Sesungguhnya apa yang telah engkau lakukan di malam itu dari berucap dari ucapan yang kasar adalah disebabkan sulukmu (prilaku adab) dungu lagi menyimpang “
(Kitaabun Maftuuh : 6, Syaikh Mahmud Mahdi)

Pada halaman berikutnya syaikh Mahmud berkata :



“ Dan di antara paling buruknya dan paling dungunya sulukmu dan sedikitnya adabmu…”
(Kitaabun Maftuuh : 6, Syaikh Mahmud Mahdi)
Dia juga berkata :




“ Engkau berkata bahwa engkau menginginkan sesuap makan, apakah hal itu dicontohkan oleh para pengikut Nabi Saw?? Kenapa engkau tidak mengeluhkan urusanmu kepada saudara-saudaramju lalu mereka akan membantumu sebgaimana mereka telah membantumu atas usulanku itu wahai yang keras hatinya...afwan bukan karena untuk sesuap makanan tapi untuk memperbanyak harta ". (Kitaabun Maftuuh : 9, Syaikh Mahmud Mahdi)

Pada halaman berikutnya syaikh Mahmud berkata :




“ Kedelapan : Dan di antara kedunguan dan keburukan adabmu adalah penyimpangan dan sikap semena-menamu di Jami’ah (sebangsa universitas) khususnya kepada Al-Mukarram Syaikh Abdul Aziz, engkau telah mengusirnya dari Jami’ah “.
(Kitaabun Maftuuh : 12, Syaikh Mahmud Mahdi)

Tentang kitab ini (Kitaabun Maftuuh) konon isunya dicetak dan disebarkan oleh Syaikh Zuhair asy-Syawis tanpa sepengetahun syaikh Mahmud Mahdi yang juga merupakan murid senior Albani dan bergaul selama empat puluh tahun pula dengan Albani.

Syaikh Zuhair asy-Syawis sengaja menyebarkan kitab tersebut dikarenakan juga ada polemic masalah percetakan buku-buku gurunya tsb yaitu Albani, ia merasa sakit hati dengan Albani yang telah mencaci maki habis kepadanya. 


Pertikaian syaikh Albani dan muridnya; Syaikh Zuhair asy-Syaawis :


Berikut sebagian caci maki Albani kepada syaikh Zuhair mantan murid Albani :


“ Cetakan ini adalah cetakan yang resmi, adapaun cetakan penerbit Al-Maktab Al-Islami yang baru, maka itu tidaklah resmi karena itu DICURI dari yang cetakan pertama sedangkan hak cipta milik sipengarang diberikan kepada siapa saja yang dikehendakinya dan mencegahnya dari orang YANG TIDAK BERTAQWA kepada Allah dan BERMAEN-MAEN dengan HAK-HAK hamba-Nya dan di dalam cetakan yang DICURI tersebut terdapat tambahan dan pengurangan. Allah Al-Musta’aan wa ilahil mustakaa (Allah tempat diminta pertolongan dan keluhan) dari kerusakan penduduk zaman sekarang “. (Di dalam hasyiah Shifah sholah Nabi; Albani : 7)


Albani juga mencacinya di halaman lainnya :

“ Kemudian Allah memberikan anugerahnya padaku dan memudahkannya untukku dari hal itu, maka aku menjadikan dari kitab Jami’ Shagir menjadi dta kitab; Sahihul Jami’ dan Dhaiful Jami’ keduanya telah dicetak. Akan tetapi kami memepringatkan pada para pembaca dari TIPU DAYA Syaawis di dalam cetakannya yang baru yang tujuannya utk dagang tentang ta’liq-taliq dan muqoddimah kedua kitab tsb, Allah Al-Musta’aan “.(Di dalam hasyiah Shifah sholah Nabi; Albani : 66)

Dia juga berkata di halaman lainnya :




“ Ketamakan yang bersifat bisnis, merubah bentuk (kitab) demi untuk cari makan, yang selalu menjulurkan lidahnya, menghalakan dusta dan tipu, sangat jauh dari ilmu dan jauh dari bidang ilmu takhrij, suka mencuri..” (Hasyiah shifah sholat Nabi; Albani)


Caci maki balasan dari syaikh Zuhair Asy-Syaawis kepada gurunya; Albani :

Zuhair kemudian mulai mencetak kitab-kitab untuk menyerang gurunya tsb di antaranyta kitab “ Fadhlul Kilaab ‘Ala man Labisa ast-Tsiyaab “ dan ia langsung menghadiahkannya kepada Albani. Zuhair dalam muqoodimah kitab tsb mengatakan :


“ Aku khususkan (kitab ini) kepada orang yang telah Allah berikan ilmu lalu ia menanggalkan ilmu tersebut (Bal’am) zaman itu dan kepada orang yang berjalan di jalannya, mengikuti jejaknya dari Bal’am-Bal’am hari ini sebagai celaan. Dan kepada sahabat iblis dan kepada orang yang tersohor dengan dusta dan tipu daya…
Dan masih banyak lagi ceaan dan caci maki Zuhair kepada gurunya tersebut yang telah berguru dengannya selama empat puluh tahun padahal di salah satu kitabnya kia pernah berkata “ Duduk satu jam bersama syaikh Albani lebih utama daripada duduk seribu kali bersama selainnya “.
 Tanggapan :


Beginikah hasil tarbiyah (pendidikan) diperoleh dari Albani bahkan selama 40 tahun bersama Albani??

Beginikah adab seorang murid kepada gurunya ?? dan begitukah adab seorang guru dengan muridnya ??

Itukah akhlak para penolong sunnah Nabi Muhammad Shallahu 'alaihi wa sallam ??

Begitukah akhlak Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallam ??

Dan hal inui merupakan adzab Allah kepada mereka yang telah mencaci maki para wali-wali Allah Swt dalam kitab-kitab mereka seperti mencaci imam Al-Muhaddtis Al-Kautsary hingga mengrang kitab berjudul " At-Tankiil bimaa fii ta'niibil Kautsari minal Abaathil ", berisi caci maki dan celaan kepada imam Al-Kautsari, dan hal ini juga merupakan karomah dari para wali Allah yang dicaci maki Albani sehingga Albani dan banyak dari para muridnya saling mencaci maki.

Kita memohon kepada Allah adab yang baik kepada para guru-guru kita dan kepada semua yang telah mengajarkan kita akan ilmu yang bermanfaat. Aamiin..